Showing posts with label Living in Leiden. Show all posts
Showing posts with label Living in Leiden. Show all posts

09/06/2020

Day 2 & 3 : Jalan-Jalan Pertama dan Pindah Rumah

Hi, sudah agak waras lagi. Jadi dibanding tulisan di sini hanya berisi keluh-kesah yang kelak dibaca lima tahun lagi hanya akan membuat bergidik sendiri, mari pelan-pelan tulis hal-hal yang masih mau kamu ingat nanti-nanti. Sekalian back-up foto-foto kalau-kalau nanti ada hal buruk yang terjadi.
Sebenarnya saya sudah mencoba peruntungan berbagi cerita lewat kanal Youtube namun memerlukan usaha lebih untuk edit-edit videonya. Jadi, cerita di sini dulu ya! 

Mau cerita perjalanan kami pertama kali jalan-jalan mengitari kota, kemudian pindahan ke rumah kami di Rijnsburgerweg 67.
 
Sesampainya di Leiden, kami (saya dan Karin) menginap 2 malam di rumah senior saya yang sedang PhD karena rumah kami belum bisa check-in. Beliau tinggal berdua dengan suaminya yang sama-sama PhD juga di Delft University. Mereka bertemu saat S2 di Imperial College London. Ketika mendengar ceritanya terdengar seperti mimpiku! Rumah beliau terletak di Haarlemmerstraat (shopping street) di Leiden, sebenarnya hanya 20 menit ke rumah asliku. 

pagi ke-2 kami di Leiden.
Masih musim panas dan cerah.

perbekalan dari teman-teman, 
terimakasih banyak ya <3

Agenda hari ke-2 adalah mencari rumah (untuk memperkirakan seberapa jauh jarak yang harus kami tempuh) dan membeli kartu SIM, sekaligus melihat kampus. 
Kami sudah siap dari jam 9 tapi Karin masih jet-lag jadi menunggu Karin tidur dulu dan akhirnya kami keluar jam 11 siang. Sambil jalan kami sudah mampir di toko pulsa untuk beli kartu SIM, tapi karena itu weekend, toko-toko baru buka jam 12 siang. Siang banget kan? 
Setiap hari Sabtu di Leiden juga ada pasar tumpah di depan balai kota, tadinya kami berniat ke sana tapi karena arahnya bertolak belakang dengan kampus jadi ditunda dulu rencananya.

Tujuan pertama kami adalah ke kampus. 
Jadi, universitas di Leiden itu tidak seperti UI yang satu kompleks terpusat. Fakultas-fakultasnya tersebar di sepanjang penjuru kota. Kampusnya terletak berseberangan dengan Leiden Centraal Station (stasiun kereta), terpisah agak jauh dari pusat Leiden University-nya yaitu tempat orang-orang biasanya wisuda, sebenarnya lokasi ini justru sudah mendekati perbatasan dengan kota lain (Oegesgest). Kampus kami berdekatan dengan Fakultas Psikologi. 

Kami lewat depan kampus tapi gak masuk karena terlihat sangat sepi (padahal ini rumah sakit terbesar di kota lho, orang Belanda nampaknya sehat-sehat) dan seperti biasa, mahasiswa norak, kami foto-foto dulu. Padahal 10 minggu ke depan akan setiap hari pergi ke sini. 

Gedung rumah sakit 

persis di depan kampus ada kedai lumpia,
favorit teman saya. tapi B aja karena 2 euro bisa dipakai beli spaghetti.


Setelah itu, dengan kondisi belum punya kartu SIM dan HP tidak ada internet, saya nekat ngajak Karin mencari rumah. Selama di sana kami sewa rumah AirBNB untuk 3 bulan, super recommended karena rumahnya luaaaaas banget, estetik, dan yang paling penting dekat kampus. 
Nah, seperti biasa kami sok tahu mencari jalan Rijnsburgerweg hanya berbekal ingatan saya tentang jalan di Google Maps (HAHA, Karin sudah bete banget di sini karena kami jalan kaki dan kehausan, maafin ya Rin). 

Ternyata kami salah jalan dan malah terdampar di belakang kampus, intinya jauh berbeda dengan jalan ke rumah seharusnya. Kami gak sengaja lihat burung mati terkapar lalu dari kejauhan ada 2 perempuan sedang berjalan, saya merasa bertanggung jawab dengan kenekatan kami pun memberanikan diri menyapa mereka sekaligus bertanya apa tahu jalan rumah kami atau engga.
Salah satu dari mereka berhijab dan berasal dari Malaysia, mereka sedang menuju Leiden Centraal, akhirnya kami ikut berjalan bersama sambil ditunjukan jalan lewat Google Mapsnya. Sebuah pengalaman akibat rasa sok tahu. Hal menarik tentang jalan-jalan menurut saya itu sih, keberanian mencoba dan akhirnya bertemu dengan orang baru. 

Singkat cerita kami akhirnya menemukan jalan Rijnsburgerweg, namun nomor rumah kami adalah 67 yang berarti sangat pojok. Sesampainya di depan rumah kami sempat bingung karena rumahnya tampak tidak terawat dan kosong. Setelah itu, langsung pulang. HAHAHA, sudah jalan capek-capek, nyasar pula, sudah sampai rumahnya kosong dan akhirnya kami balik arah ke rumah dr. Fatma.
Di jalan ternyata toko pulsanya sudah buka! 

Kami beli kartu SIM tapi sayangnya kena tipu :( harusnya pulsanya 10 euro dan kartunya gratis (menurut situs provider-nya), penjualnya malah menghargai 15 euro dengan alasan 5 euro untuk kartunya. Waktu cerita ini ke dr. Fatma dan Mas Aulia (suami beliau), kami ditertawakan, katanya, "Duh kalian kalau di sini gak boleh terlalu polos ya nanti dibohongin orang." 
Saya tidak merekomendasikan Doctor Mobil* di Leiden untuk beli kartu SIM!

Ada beberapa pilihan sebenarnya untuk kartu SIM di Belanda. Yang jelas kalau mau jalan-jalan pastikan beli paket yang coverage-nya sudah mencakup seluruh Uni Eropa. 
Pilihan pertama adalah Vodafone, ini sinyalnya paling bagus namun agak mahal, mirip-mirip sama Telko*ms*l lah kalau di Indonesia. Saya tidak memilih ini karena sebenarnya di kampus dan rumah ada WiFi, paket data hanya untuk bertualang saja. 
Pilihan kedua adalah Lebara, sinyalnya mendingan dan kelas menengah, saya beli paket 10 euro dapat 2 GB
yang lebih murah lagi adalah Lyca Mobile, kalau tidak salah 15 euro dapat 5 GB. 
Petualangan kami mengitari kota selesai hari itu karena kami lapar. Akhirnya kami pulang dan istirahat sekaligus harus berkemas karena besoknya akan pindahan ke rumah.

Setelah memperkirakan kalau ternyata jarak dari Haarlemestraat ke Rijnsburgerweg cukup jauh jika jalan kaki ditambah segembreng koper-koper itu, kami mencoba peruntungan untuk meminta jemput oleh host AirBNB kami yaitu Jan! Dan alhamdulillah beliau mau :' begitu banyak nikmat dan kemudahan di awal-awal kedatangan ini.

Kami pun dijemput oleh mobil jaguar hijaunya ke rumah, kami juga diantar melihat sekeliling termasuk diajak ke supermarket terdekat. 
Setelah sampai rumah, terkagum-kagum karena rumahnya sebagus itu ternyata! Estetik banget! 
Super luas buat kami yang hanya tinggal berempat. 
Kamar di rumah hanya ada 1 tapi ada kasur lipat di ruang tengah untuk tidur.

Dapurnya juga ada mesin cuci piring (sebuah kecanggihan yang ku kira cuma ada di The Sims wkwk). 
This is our house: 


so beautiful

ruang tamu rumah (kamar Febi wk wk), 
kangen banget

kamar yang tidak pernah ditiduri
karena kalau malam suhunya 0 derajat
ruang tengah.
di belakang sana ada kamar mandi dan ruang cuci baju

Setelah packing kami meneruskan jalan-jalan mengitari kota, sekaligus mencari tempat penyewaan sepeda. Sayangnya sepedanya masih penuh untuk disewa jadi harus tunggu giliran. Soal sepeda ini nampaknya akan jadi konten selanjutnya di Youtube-ku, tunggu ya!

berdandan sebelum piknik di taman


Kami piknik di Huig Park, taman di depan Molen de Valk (kincir angin utama di tengah kota Leiden), sangat turis sekali HeHe.
enjoying summer breeze

sebelum di ee-in burung

Setelah piknik cantik kami terpaksa usai karena celana karin kena ee burung,
kami grocery shopping pertama di Jumbo, supermarket di depan stasiun kereta. Membeli perlengkapan hidup dan mempersiapkan diri karena sekolah dimulai keesokan harinya!

Oh, how I miss my dearest Leiden. 
Bedankt!

28/04/2020

Day 0: Leaving Jakarta

Mulai berhenti menghitung hari sudah berapa lama di rumah saja. 
Saat ini saya masih libur, seharusnya jadwal mata kuliah Elektif Non-Klinik, namun saya transfer nilai dari LUMC (yang sebenarnya sedikit saya sesali karena saya jadi super tidak ada kerjaan). Setelah ini akan masuk Foundation of Clinical Practice (FCP) yang entah akan bagaimana formatnya.
Berhubung tidak ada kegiatan tentu saja yang sering saya lakukan adalah melihat galeri foto. 
Rasa-rasanya belum banyak yang saya ceritakan. 

Let's start with the departure! It was on 29th August. Not long after my parents went back from Hajj and the lil bro also came back to the town. So the whole fam was there!
We left Bogor at 5 and arrived in Soetta at 7. It was raining along the way. I couldn't stop thinking how I could I survive with this 30 kg ++ suitcase which only has 2 wheels. 

Untuk beberapa saat saya sedikit lupa kalau perjalanan ke bandara saat itu berbeda dengan perjalanan setiap akhir semester. Bukan hanya 1 jam penerbangannya, 18 jam.
Ini penerbangan terjauh saya dan pertama kalinya juga saya menginjakan kaki di Eropa.
Penerbangan pertama ke Abu Dhabi selama 8 jam, menjemput pagi di sana dan mengantre imigrasi selama 1 jam, kemudian lanjut ke Schipol 7 jam. 

quite surprised,
kirain gak sebanyak ini karena lagi pada puskesmas dan berpencar-pencar.
thank  u 2016!
my main girls, huhu trimakasyi <3
the fam before I went to the departure gate. 
Papa belum cukur jenggot.
we waited for 3 hours in Abu Dhabi
Safe and sound in Schiphol! 
Hey Anouk! she's my buddy from university. 
HAAAA bersyukur banget dijemput Anouk dan Kevin, diajarin cara naik kereta dan top up saldo. 


beautiful morning 


Leiden waktu itu  23 derajat. Selama perjalanan saya takut gak bisa bawa koper super berat ini tapi untungnya kami dijemput Anouk dan pacarnya, Kevin. Mereka menunggu kami di pintu kedatangan. 
Mengajari kami isi ov-chipkaart (kartu transportasi di Belanda), kebetulan Nisil meminjamkan saya miliknya. 
Perjalanan Schipol Leiden ditempuh selama 40 menit. 
Setelah itu kami berjalan dari Leiden Centraal menuju penginapan kami selama 2 malam di rumah dr. Fatma. 
Beliau baik sekali menyediakan sup bakso dan nasi :'. sebuah pengingat penting untuk Fona di Masa Depan: kalau ada siapa pun yang bisa kamu bantu, harus kamu bantu ya! ingat kamu pernah berhutang budi ke orang soal ini!

Sempat merasakan jet-lag. Kaget juga kalau adzan Isya baru jam 11 malam dan akhirnya kami tertidur dan baru bangun jam 3 pagi, untung Subuh masih jam 7. 
Pagi harinya kami sarapan pizza, lagi-lagi dimasakin :'
Alhamdulillah. 




10/02/2020

Merintih

“Lu tidur aja marah Fon, bukan marah sih, merintih gitu. Mimpi buruk ya?”
“Hah? Gimana gimana?”
“Ya, lu kelihatan... takut. Kayak marah, gelisah. mungkin soal masalah itu...?"
Sebuah percakapan saat saya menginap bersama karena ujian satu minggu lagi. 

Tuhan, mimpi buruknya belum pergi juga.
Saya tidak pernah tahu apa yang terjadi ketika saya terlelap.
Tapi kenapa belum pergi-pergi juga?
Saya mau damai,
saya mau tahu arti memaafkan.

Setelah pecah tiga hari tidak berhenti-berhenti,
saya sadar ini sudah lebih dari seratus lima puluh hari.


31/12/2019

Dank je Wel Leiden: Memaknai Ibadah

”Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikan itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui.”

Sudah di penghujung tahun! 
2019 merupakan tahun saya merasakan banyak hal untuk pertama kalinya; salah satunya adalah pertama kali merasakan kuliah di luar negeri dan gratis hehe (Terimakasih FK UI) 
Saat ini masih libur kuliah sampai 27 Januari (ya ampun masih lama!!!)
selama hidup di sana saya merasa sering kejatuhan ide, bertubi-tubi dan banyak sekali. Sayangnya, seringkali pula saya hanya menulis di notes/buku kecil sebagai check-list yang harus saya penuhi atau hanya berakhir di draft saja.
Jadi langkah ini adalah salah satu upaya saya menepati janji pada diri saya sendiri untuk banyak berbagi, bukan sekadar untuk orang lain (semoga saja tulisan saya ada manfaatnya) tapi yang lebih penting adalah untuk diri saya sendiri di masa depan. 

Kehidupan awal-awal saya di Belanda adalah tentang mempertanyakan: Apakah keputusan saya tepat? Apa yang sebenarnya saya cari? Apakah saat pulang nanti saya akan membawa sesuatu?
Orang-orang lain tetap bisa menjadi dokter tanpa harus menempuh jalan ini. Tapi saya tidak punya pilihan lain, selain menjalani apa yang sudah ada di depan mata saya. Di sisi lain, berusaha untuk menuliskan apa-apa yang saya dapat selama di sana mungkin adalah solusi untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan saya dan pertanyaan-pertanyaan orang lain.

Ayat di atas merupakan salah satu ayat yang saya baca ketika sedang dalam fase sulit sekali di Leiden, terutama karena homesick dan sedang butuh-butuhnya berbagi dengan orang terdekat (kalau boleh jujur, tahun ini terdapat rangkaian kejadian traumatis dan mencapai puncaknya saat saya justru berjarak berkilo-kilo meter dari rumah. Salah satu titik balik terbesar saya tahun ini, masih berusaha untuk ikhlas, menyembuhkan diri dan baik-baik saja, doakan ya!). Di fase sangat-sangat sulit tersebut, yang saya lakukan agar tetap "waras" adalah berusaha memperbaiki ibadah, setidaknya saya butuh merasa tenang. 

Kembali lagi dengan ayat di atas, setelah membacanya, saya melirik ke sekeliling. Bahasa-bahasa yang tidak saya pahami, warna kulit yang berbeda.
Saya langsung terbersit untuk menulis tentang bagaimana menjalani Islam selama studi di luar, khususnya Leiden. Sebenarnya ragu juga untuk menulis ini, ya rasanya saya tidak baik-baik amat untuk menulis yang berkaitan tentang agama begini (hehe, semoga jadi lebih baik). Tapi ini pun pertama kalinya saya menjadi minoritas dalam periode yang cukup lama. 
Jadi, bismillah..


06/11/2019

Day 65: Jika Aku Menjadi Peternak Sapi

Akhir pekan lalu saya berkunjung ke Desa Poppel, tepat di perbatasan Belanda-Belgia. 
Teman SMA saya sedang magang di sana selama 2 bulan lewat organisasi internasional,
perjalanan ditempuh selama 2 jam. Naik kereta dari Leiden Central seharga 20 euro dan bulak-balik 40 euro (yang berarti uang patungan rumah selama satu bulan), ketika naik bus kami baru sadar tidak bisa memakai OV-Chipkaart (kartu transportasi Belanda) karena busnya sudah masuk Belgia. 
Kami disambut oleh host family-nya plus seekor anjing bernama Boh. Sejujurnya ini pertama kali saya berinteraksi langsung dengan anjing, awalnya takut dan sempat ada adegan kejar-kejaran, kemudian... sepatu saya dijilat :"

Setelah itu kami disuguhi Pumpkin Soup yang ditanam di kebun mereka sendiri, sangat enak! Ruang makannya pun disuguhi pemandangan padang rumput yang hijau tempat sapi-sapi main kalau pagi hari. Sebagus itu!
--bersambung karena sedang mengerjakan case report---
Pumpkin Soup because it's Halloween!
Pertama kali lihat dan pegang pumpkin beneran HEHE

me with sapi


di kebun Blueberry tapi karena sudah autumn, blueberrynya sudah tidak berbuah


Cow Hugging!!!!

Memberi susu kepada anak sapi yang baru lahir

bersama anak sapi

Puding susu hasil perahan susu

01/11/2019

Day 62: Present Moment

Today we had our last lecture, it was about stem cell therapy using exosome to treat injured scar after myocardial infarction. I still have one last exam, case report deadline and case report presentation before going back. How I wish I could stay longer. I already left my heart in this city.
Not an easy topic though. But somehow it draws me to a self-reflection. When my dreams, and, unfortunately, also fears became real. 

10/10/2019

Day43: Happy World Mental Health Day

Refleksi diri hari ini saat bersepeda sok tahu dari kampus-Easy Fiets-Islamic Center-lurus terus ke arah jalur Den Haag - dan akhirnya sampai di belakang LUMC.
Syukur dan kufur sejatinya adalah dua katanya yang sangat dekat, 
bahkan tidak kufur adalah sebuah nikmat yang sepantasnya selalu diingat. 

Sometimes, we take everything for granted just because other people also get that too, 
we are not the only one who get the blessings, 
then we forget the value of blessing itself,

hanya karena bukan hanya kamu yang menerima, 
tidak lantas membuat keberkahan itu tidak berharga

kadang saya lupa betapa menjadi mahasiswa di kampus ini adalah doa yang dulu selalu saya ucap setiap sujud,
hanya karena saya sudah di sini, orang-orang pun sudah di sini 
lalu saya malah jadi bertanya-tanya mengapa setelah saya di sini, 
saya hanya mampu melakukan hal segini saja?
saya sibuk membandingkan diri dengan orang-orang yang saya pikir bisa berbuat lebih, 
However, I just realized that the only person you should compare yourself with is, indeed, yourself. 
will the old-version of you proud of yourself now?

Perjalanan ke sininya pun tidak mudah
lantas mengapa seringkali merasa kecil?
begitu pun dengan terbawanya saya sampai benua ini, 
hanya karena bukan hanya saya saja yang memiliki kesempatan ini, 
saya pun terkadang masih abai dengan betapa berharganya kesempatan ini
atau seberapa besarnya mimpi ini dulu terbayang. 

seperti itu juga tentang semua nikmat yang dikasih secara cuma-cuma;
oksigen, sinar matahari, segala kecukupan aspek hidup yang mungkin luput dari pikiran kita
kadang kita lupa bahwa itu adalah bagian dari yang perlu dihaturkan syukur, 
seolah kita akan merasakannya setiap hari,
padahal tidak begitu.
akan selalu ada orang yang tidak mendapatkan apa yang kita punya, 
begitu pun dengan akan selalu ada hal yang tidak kita dapatkan,
semua orang sudah punya jatah bahagianya masing-masing. 

so here for another day of self-appreciation and gratitude, 
you did a great job, Fon
greater things await you, 

bukan saya tidak butuh orang lain untuk mendapatkan semuanya,
tapi yang kamu dapatkan adalah buah kerja keras dirimu sendiri kok,
kamu tidak selalu butuh orang lain,
you just need to believe on yourself, like you always do
you will be okay on your own,
those who love you will always pray for you
and those who don't, don't mind about you at all. 

Jangan lupa selalu bersyukur!
Anyway, I want to make a love-proclamation for my bike, 
thank you!!!!! i really love you! 
terimakasih sudah membuat kesehatan mental saya lebih baik, 
after what happened these past few months.

Kamu selama ini pun berpijak dan bergantung dengan dirimu sendiri,
jadi kalau ada yang sudah tidak mau membantumu lagi,
bukan salahmu, hanya perlu menunggu yang mau saja.

Baik-baik,
semua akan baik-baik seperti semula,
bentengmu akan terbangun lagi,
kali ini harus berjanji buat yang lebih tinggi.

Happy World Mental Health Day!
it's okay not to be okay. 
Healing takes time. You are brave enough to seek for help, you're doing greaaaaaaat!



26/09/2019

Day 28: Mengayuh Sepeda

Kota kecil ini diguyur hujan, tidak deras namun cukup membuat gigiku bergemelutuk.

Belok kanan, lurus lagi, ya mulai berkabut.
Dingin.
Kok tidak sampai sampai juga?

Aku hanya perlu mengayuh lebih keras lagi, 
agar jalan ini cepat terlewati,
dan saat itu tidak ada yang ku ingat lagi. 

- bersepeda ke rumah Kakek Anouk di Rijnsburg sejauh 4 km, totalnya 8 km, sebuah prestasi bersepeda terjauh-


Opa sudah berumur 89 tahun, beliau adalah kakek buddy saya. Beliau lahir dan besar di Indonesia, hingga umur 17 tahun dan Jepang datang. Sebuah pengalaman yang traumatis untuknya. 
Sampai saat ini masih sangat mencintai Indonesia. Bisa Bahasa juga sedikit. Bahkan beliau pakai batik! 

25/09/2019

Day 25: Panjang Umur Perjuangan

Hari ini sejarah terulang kembali, 
banyak teman-teman turun ke jalan,
pergerakannya tidak ditunggangi kepentingan golongan, 
tapi rakyat. 

Sejak masih di bangku sekolah, saya seringkali tersihir oleh romantisme demonstrasi, 
sebuah privilege yang dimiliki mahasiswa, 
saya membayangkan betapa gagahnya jika menyuarakan kepentingan orang banyak, 
lengkap pula apabila memakai jaket kuning; salah satu motivasi saya untuk menjadi mahasiswa di kampus makara.
karena katanya, kampus itu adalah kampus perjuangan
karena konon, apabila jaket kuning turun ke jalan, negara tidak dalam kondisi yang baik-baik saja

selama masa kuliah saya bergabung di departemen kajian dan aksi strategis, 
pengalaman pergerakan mahasiswa saya belum banyak, 
hanya dua kali benar-benar turun ke jalan,
long march menuju rektorat dan di depan Kemenristekdikti
saya bersyukur pernah punya kesempatan itu 

saat ini saya jauh sekali dari Jakarta, 
tapi saya tergugah karena romantisme perjuangan itu ada,
saya tidak peduli dosen di depan bicara apa soal metabolisme lipid atau sindrom metabolik,
negara saya sedang tidak baik-baik saja

betapa semua orang hatinya tergerak, 
bahkan mereka yang mengaku sendiri sebelumnya tidak pernah peduli
jujur saya perasaan sedih itu ada, 
kalau suatu hari anak saya bertanya, "Ma, waktu 24 September, Mama ikut turun?"
ah ingin sekali jawab iya, 
sambil bercerita betapa meskipun banyak orang seringkali meremehkan perjuangan seperti ini, 
tapi perjuangan itu tetap layak ditempuh 

jadi saya haturkan rasa terimakasih banyak kepada teman-teman yang sudah turun, 
atau yang belum bisa turun, 
namun doanya tercurah 
terimakasih sudah mewakilkan keresahan yang sama
terimakasih sudah lagi-lagi membuktikan bahwa kemerdekaan bangsa kita memang diraih dengan keringat dan perlawanan, bukan pemberian semata. 
dan itu harus terus diingat serta diamalkan
sehingga kalau bangsa kita dijajah lagi, 
tidak ada yang bisa dilakukan selain melawan! 

hari ini mengenakan pakaian hitam ke kampus, 
semoga doa-doa saya sampai meski ribuan kilo dipisahkannya. 
toh perjuangan pun beragam bentuknya, 
di sini pun sedang berjuang, 
demi kesehatan Indonesia yang makin baik suatu hari nanti


mulai lelah ada di sini, 
segalanya membuat lelah,

kondisi negeri yang sangat menghancurkan hati sampai-sampai membuat lupa saya pun masih patah hati. 
semoga bisa bahagia lagi, 
pasti, suatu hari nanti. 

ah, empat tahun itu sebentar bukan?


Rijnsburgerweg, Leiden. 
09.05,25 Sept.

08/09/2019

Day 9: Capital.

Menandai hari ke-9 saya menginjakan kaki di tanah yang dahulu hanya sebatas cerita-cerita sebelum tidur.
Hidup di sini baik-baik, 
hanya suhu yang lebih dingin dari biasanya, angin yang berhembus lebih kencang dari biasanya dan rindu yang berlipat ganda lebih bertumpuk dari biasanya. 

Hari ini saya pergi ke Volendam; kota tua yang terletak agak jauh di utara, tempat orang-orang berfoto dengan kostum lokal di sini.

Lalu saya akhirnya berjumpa dengan Amsterdam. 
Pertemuan kami menarik, 
menjawab segala tanya selama ini, setinggi apa bangunan di ibu kota sana?
Banyak orang,
gedung yang menjulang,
sungai yang membentang,
dan kaku yang menusuk sampai ke tulang. 

Perkenalan saya dengan Amsterdam cukup menyenangkan, walaupun akhirnya mematahkan hati,
sesulit itu bersujud dengan kondisi yang layak, 
berujung pada penggunaan debu-debu di stasiun kereta 
dan langkah-langkah yang tidak sampai jua. 


Ibukota,
mungkin lain kali kami dapat berteman lebih baik,
meninggalkan kesan yang lebih hangat dari sekadar orang asing yang baru bertemu 
seperti cara saya mengingat Jakarta, 

dan segalanya semakin terasa jauh, 
kerumunan yang ada tidak dapat membawa saya ke mana-mana.
menakutkan sekali konsep bermimpi.
mimpi yang kini hidup, 
toh lama kelamaan membawa saya pada kesenangan yang kian redup,
harus di mana di cari?

Meracau lagi nampaknya, 
sudah bertekad akan banyak menulis di sini, 
saya butuh waras lagi.
zona waktu ini membuat yang tersayang sulit dijangkau 
semoga doa tetap mampu memeluk mereka semua. 

Ibukota yang rumit,
dan pikirku yang berbelit-belit,
keduanya akan terurai satu hari nanti. 

Kampus sejauh ini belum banyak tugas, 
senang di sini risetnya sangat maju, 
microRNA dibuat lecture sendiri,
masih belum banyak berteman.
teman di rumah baik-baik
sedikit demi sedikit sudah bisa memasak.
kedinginan adalah masalah utama saya.
ah ya, syukur di kampus ada mushalla.




HAHAHAHA bandingkan ukuranku dengan orang-orang itu,
tenggelam.

Doakan semakin baik lagi ya?


Leiden, 7 Sept.