02/08/2026

Refleksi Leimena

30-31 Juli 2026. 


Tahun ini, Direktorat Jenderal Layanan Primer Kementerian Kesehatan bekerja sama dengan Primary Health Care Consortium menyelenggarakan Leimena Conference 2026. Tema yang diangkat adalah Integrasi Layanan Primer. ILP ini adalah sebuah konsep yang sudah diterapkan secara nasional sejak tahun 2023, jadi sudah 3 tahun berjalan. Prinsipnya adalah integrasi pelayanan kesehatan di layanan primer berbasis siklus hidup, mulai dari ibu hamil - bayi - balita - anak - remaja - dewasa/usia produktif - hingga lansia. Jika sebelumnya pelayanan kesehatan berbasis program, saat ini semuanya terintegrasi berbasis siklus hidup. Leimena Conference ini menarik sekali karena menghadirkan berbagai delegasi dari Puskesmas seluruh Indonesia. 

Awalnya aku sendiri tidak berniat ikut dan mendaftar, selain karena memang tidak submit abstrak apa pun, jadwalnya bentrok dengan jadwal jagaku di rumah sakit. Namun, setelah aku renungkan lagi, di hari ke-2 aku nekat pergi ke BRIN Gatot Subroto untuk ikut, karena kapan lagi punya kesempatan untuk engage di forum ilmiah tentang kesehatan masyarakat dan layanan primer?

Selepas jaga malam jam 07.30, aku sudah bersemangat pergi ke Bogor, meski harus ada drama aki mobil mati yang menyebabkan aku baru bisa sampai rumah Bogor jam 11 siang. 
Keputusan berangkat ke Leimena adalah keputusan terbaikku di bulan Juli. 

Sebenarnya bisa dibilang aku ini peserta gelap karena tidak ada sertifikat formal yang ku terima, tidak ada registrasi juga, jadi aku benar-benar hanya datang dan mendengarkan. 
Di setiap sesinya aku banyak sekali belajar, namun kesempatan paling berharga adalah bertemu dengan teman-teman seperjuangan yang juga membelot ke public health: bertemu Alya yang baru saja lulus dari Johns Hopkins, Abiyyu MPH Imperial yang sedang terlibat proyek dengan OUCRU, dan Adriana yang sudah jadi Director di salah satu NGO di Nusa Tenggara Timur. 
Aku menutup hari dengan makan Sate Khas Senayan bersama mereka dan bertukar pikiran tentang rencana-rencana kami ke depan. 

Di antara lima orang dokter di meja itu, hanya aku yang punya Surat Izin Praktik. Aku tidak bisa bohong bahwa sebenarnya aku iri sekali, iri karena sayangnya aku belum memiliki kesempatan untuk bekerja di bidang public health, padaha sudah jauh-jauh belajar hingga ke Oxford. 

Aku masih dalam kebimbangan yang sama, tidak seperti teman-teman yang lain, aku akui bahwa aku menyukai interaksi dengan pasien, tapi tetap saja aku benci jaga malam. 
Jauh di lubuk hati terdalam ku pun mimpi untuk menjadi spesialis itu masih ada, meski entah bagaimana caranya. 

Di sisi lain, aku pun tahu betul bahwa rasanya dampak yang ku berikan di pekerjaan ku sekarang tidak terdengar sekeren orang-orang. Salah satu dosenku sempat berbagi alasan beliau memilih dunia public health, 

"kalau jadi dokter saya bisa menolong satu pasien, tapi kalau jadi yang mengubah sistem kesehatannya, orang-orang yang bisa saya tolong lebih banyak lagi."
seperti slogan Johns Hopkins, saving lives million at once. 


Malam itu aku pulang naik kereta ke Bogor dengan gamang, bahkan selama konferensi aku sulit sekali memperkenalkan diri, "Halo saya Fona, saya dari RSUD...". Asing sekali nampaknya seorang dokter dari rumah sakit datang ke konferensi layanan primer. 

Waktu aku internship di Bnadung, aku ingat sekali pernah bercerita ke bosku kalau aku agak jenuh di Puskesmas karena pekerjaannya cenderung monoton. Hampir enam bulan bekerja sebagai dokter umum, aku juga sudah merasakan kejenuhan yang sama. Jadi bingung, apakah artinya memang aku yang tidak cocok jadi dokter ya? 
tapi ternyata aku suka mendengarkan cerita praktik baik di Puskesmas, bagaimana dengan keterbatasan sumber daya yang ada namun para peserta itu tetap bisa berbagi prestasi-prestasi mereka. 
aku suka membicarakan tentang public health. 

Malam itu kesimpulanku adalah soal tentang belajar bersabar. Lagi dan lagi aku harus lebih gentle dengan diriku dan proses kehidupanku. Alya juga bilang, "kan batas daftar spesialis sampai umur 35." Artinya, aku sebenarnya masih punya banyak waktu. 
Dulu, aku pikir berpindah haluan ke public health itu artinya memilih jalan yang satu, ternyata setelah tercebur ke dalamnya, bahkan banyak sekali kekhususan dalam bidang ilmu ini. 

"ya kadang kita emang ga pernah tau kalau ternyata kita gak tau."

Hari kedua Leimena Conference, aku berangkat jam 6 pagi bersama Mamah karena kebetulan BRIN Gatot Subroto adalah kantor beliau. Seru juga rasanya merasakan rutinitas Mamah, beliau pun senang ditemani. 
di akhir hari kedua, aku ikut salah satu sesi presentasi oral yang membahas tentang cost-benefit analysis, panelisnya adalah ahli health economists dari Universitas Indonesia. 
Sempat ada diskusi seru soal menghitung return of investment dari sebuah program. Mereka membahas soal QALY, DALY, HALY, cost-effectiveness analysis, dan yang paling penting "how do you measure human's live using monetary value?"

penyegaran soal Economic Evaluation 




pelajaran yang ku penting dari sesi diskusi adalah: health is a human right. jadi sebelum kita menghitung ini dan itu, jangan pernah lupakan asal prinsip utamanya. 

di sesi itu juga aku tertegun, aku selama ini seringkali merasa ilmu master ku dari Oxford tidak berguna hanya karena belum ada kesempatan untuk mengimplementasikan ilmunya langsung, lagipula jurusanku mempelajari rupa-rupa sekali, jadi ya memang terpakai atau tidak itu tergantung perspektif kita. It depends.  
ah tapi setelah mendengar diskusi tersebut, aku tahu ilmuku ada gunanya karena aku memahami apa yang mereka diskusikan. ternyata ada juga ilmu yang menempel. Health economics seru sekali! aku jadi ingin baca-baca lagi. 

hari terakhir Leimena Conference ditutup dengan percakapan yang sudah lama aku nantikan, akhirnya aku punya kesempatan untuk berbagi isi kepala ku dengan seorang guru. beliau adalah panutan banyak sekali orang, sangat rendah hati sekaligus cemerlang. 
sudah sekian lama aku memendam rasa bersalahku, rasa tidak nyamanku juga karena rasanya apa saja yang aku lakukan tetap salah dan tidak pernah cukup. tapi di malam itu akhirnya aku bisa bernapas lega dan bisa menceritakan apa yang selama ini bercokol di dalam dada. 

sekali lagi, terimakasih Leimena Conference, 
dua hari kemarin aku merasa fulfilled, 
aku sendiri juga bertanya-tanya, apakah kalau aku ikut konferensi kardiologi rasanya akan semenyenangkan ini ya?
entahlah. 

sudah jam 20.20, aku harus bersiap untuk pergi jaga malam, kembali lagi ke dalam peran-ku: treating one patient at a time. 
sebenarnya jadi banyak action plan yang aku rencanakan, satu sudah dilaksanakan sih, aku akhirnya mendaftar program magang. tapi sebagaimana manusia ingin berusaha, aku percaya Allah yang paling tahu arah mana yang terbaik. 

2 Agustus ini jadi hari terakhir aku berumur 27, kalau menurut rencana hidupku sebelumnya, harusnya aku sudah punya anak satu. haha, lucu juga manusia berusaha mengatur Tuhan. 
tapi ya aku begini-begini saja, belum ada anak, belum juga ada calon ayahnya. 
ya mari kita tunggu saja. 

besok aku harus menulis surat untuk Fona usia 28 tahun! 


i swear sixteen was yesterday, but now I'm closer to 28...