20/01/2026

Refleksi Reuni 10 Tahun Pedang Platinum

Bogor, 17 Januari 2026. 

Asal usul tanggal tersebut adalah ketika kami dibagikan buku tahunan, terdapat golden ticket di mana kami diundang untuk datang ke reuni 10 tahun. 
Lalu, tanpa kami sadari, 17 Januari 2026 itu sampai. 
suddenly, we're not seventeen anymore and we haven't been seventeen for a long time.  

Awalnya aku memang berniat untuk mendaftar sebagai panitia, kemudian setelah beberapa pertimbangan, niat itu aku urungkan. Ternyata, lima hari sebelum acara, Fawwaz, temanku saat OSIS dahulu mengontakku dan mengatakan bahwa ada rencana untuk menyelenggarakan Cek Kesehatan untuk Bapak Ibu Guru. 
Dengan terikatnya aku dengan profesiku sekarang, aku tidak punya pilihan selain berkata iya. Toh aku pun tidak ada pekerjaan lain. Lalu tergabunglah aku dalam kepanitiaan, "sudah kontrak darah."

Sepuluh tahun sejak aku meninggalkan kotak sabun itu. Terlalu banyak yang berubah sekaligus sebenarnya tidak ada yang berubah. because change is the only certain thing in life. 
Saat ini aku masih tinggal di Bogor, bedanya sekarang aku sudah jadi dokter, sudah pergi ke Oxford, dan orang tuaku sudah kembali ke Bogor. 
Fona umur tujuh belas tahun tentu akan tercengang mendengar itu semua. 
Sepuluh tahun sejak gaungnya "sekolah kehidupan". Sejak aku merasa lulusnya aku dari SMA berarti meninggalkan zona nyamanku. 

Bisa dibilang keputusan untuk tidak ikut pindah ke Bengkulu adalah salah satu keputusan besar yang paling tepat. Semua itu membentukku menjadi Fona yang sekarang. Meski pada saat itu artinya aku harus membayar dengan rasa kesepian yang sekarang sudah jadi sahabat baikku. 
Rasa sunyi yang selalu menyambutku setiap aku membuka pintu rumah. 
Kesendirian yang terus membayangiku di tahun-tahun panjang itu. 
Tapi sekarang semuanya sudah terlewati. 
Aku sudah jadi dokter, meski belum punya pekerjaan. 
Orang tuaku sudah kembali ke Bogor, meski Papah sebentar lagi akan pensiun. 

Smansa memberiku fondasi kehidupan yang baru terasa saat aku mengenal dunia luar. 
Dulu aku kira orang-orang yang sudah kuliah, sudah lulus dan menjadi orang dewasa adalah orang-orang yang sudah tahu apa yang mereka mau. 
Sekarang aku sudah jadi orang dewasa, tapi aku tetap saja belum tau apa yang aku mau. Hidup seperti apa yang ingin aku jalani. 
Smansa dengan selusin tradisinya - MOPDB, Posko, Roti Cokelat, Nama Angkatan, Regenerasi,  you name it, membentukku menjadi dewasa lebih cepat dari seharusnya. 










Sepuluh tahun sejak meninggalkan masa sekolah, aku rasa lingkaran pertemananku semakin mengecil. Sesungguhnya aku bahkan tidak bisa dengan jelas menyebutkan siapa sebenarnya teman-temanku saat SMA. 
Waktu kelas 10, aku dekat dengan teman-teman sekelasku. Rasanya semua lebih sederhana pada saat itu. 
Sayangnya, kelas 11 dan 12 aku tidak sedekat itu dengan teman-teman kelasku. Ada masa aku mempertanyakan "kenapa ya?" mungkin karena setiap acara kelas seringkali berbenturan dengan OSIS. mungkin karena memang orang-orangnya berbeda.
mungkin karena aku terlalu ambisius (beberapa kali sejujurnya aku tau ini penyebabnya). 
Tapi ya mungkin tidak semua pertanyaan harus ada jawabannya. 

Sepuluh tahun sejak lulus sekolah. 
Aku kadang suka bertanya-tanya juga, mengapa lingkaran pertemanan OSIS-ku tidak sedekat tiga organisasi lainnya. Rasanya aku masih sering melihat update mereka di sosial media, berkumpul jika bulan puasa atau libur panjang. Tapi organisasiku? Grupnya berdebu dan tidak pernah bersua.
Tapi mungkin seperti itu menjadi orang dewasa. Banyak hal yang tidak bisa kita paksakan. Atau memang sebenarnya kami tidak pernah dekat. Kontrak pertemanan kami memang sudah habis. 

Hotwheels. Manuver Kecil.

Dua ribu enam belas sudah sepuluh tahun yang lalu. sudah sepuluh tahun juga sejak aku melewati masa-masa daftar kuliah, menganggap bahwa jika aku memilih kedokteran maka akan mulus jalannya. 
Nyatanya tidak juga. 
Dalam dua hari ini aku sudah mendapat dua penolakan kerja. Satu proyek adalah pekerjaan yang sangat strategis rasanya untuk karirku ke depannya, proyek tentang implementasi program hipertensi di layanan primer. 
Tapi mungkin itu jawaban istikharahku juga. 
Nyatanya tidak ada jaminan apa pun di dunia ini. Manusia hanya bisa berusaha dan berdoa. 

Semoga sepuluh tahun lagi aku masih menulis di blog ini. 
Semoga sepuluh tahun lagi, aku menjadi orang yang lebih bijaksana dari hari ini. 

dulu aku kira orang yang fight itu yang akan win, 
setelah sepuluh tahun berlalu, dunia tidak bekerja seperti itu. 

Love, 
Fona.