Pertama kali aku membaca buku Perahu Kertas adalah saat pergantian tahun 2011 ke 2012. Saat itu aku masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama. Aku masih ingat di bab mana saja aku menitikan air mata. Saat itu, Keenan dalam bayanganku adalah sahabatku saat di sekolah.
Tahun 2012, film Perahu Kertas berlayar di bioskop. Mungkin itu juga awalnya aku mengikuti perkembangan Maudy Ayunda, yang kemudian berlanjut menjadi perkenalkanku dengan University of Oxford. "Oh ternyata bisa juga ya orang Indonesia sekolah di Oxford." pikirku saat itu. Tanpa pernah tahu, beberapa tahun kemudian ternyata aku termasuk "orang Indonesia" itu.
Membaca Perahu Kertas setiap pergantian tahun rasanya sudah menjadi salah satu ritualku. Namun tetap yang paling berkesan adalah saat pergantian tahun 2019 ke 2020. Tahun aku patah hati.
Membaca buku yang sama di berbagai episode kehidupan artinya mengizinkan diri kita sendiri untuk tumbuh bersama dengan persepsi kita terhadap buku itu.
Kugy yang mungil dan bermimpi menjadi penulis. Bagi Fona yang mimpi besarnya adalah menerbitkan buku sendiri, Kugy adalah salah satu kiblat utamanya bermimpi.
Kugy yang dipanggil "kecil" oleh Keenan.
Kugy yang seringkali dianggap "tidak realistis" dalam bermimpi
Tentu saja sosok Keenan dalam kepalaku sudah berubah-ubah nama dan versinya. Beberapa kali pun berusaha cocoklogi dalam perjalanan menemukan Keenanku, yang ternyata hanya menyisakan kapal yang karam. Impian tentang menulis buku dan membuat film bersama yang tidak pernah terwujud.
Peluncuran antologi foto dan puisi yang tidak sempat lahir ke dunia.
Semuanya sudah ditelan gelombang waktu dan digulung takdir.
Hadirnya musikal Perahu Kertas ini membawaku terhanyut kembali dalam mimpi-mimpiku yang pernah, sedang, dan masih akan aku jalani.
Aku kembali diingatkan bahwa sebelum semua label yang melekat dalam diriku hari ini, aku hanyalah seorang anak kecil yang senang membaca dan berkhayal.
Aku adalah seseorang yang senang mengenal dunia baru lewat buku.
Ikatan emosionalku dengan Perahu Kertas bahkan lebih dahulu dibandingkan aku duduk di Sekolah Menengah Atas. Aku langsung ingin berdialog dengan Fona Kecil berumur 13 tahun itu. Semuanya ternyata baik-baik saja. Mimpimu memang tidak semuanya tercapai, tapi lebih banyak juga yang tercapai.
Hari itu adalah pengalaman pertamaku menonton teater musikal. Pertunjukan dibuka dengan lagu Perahu Kertas yang dibawakan Dee Lestari. Mendengarkan kembali liriknya dibawakan langsung, aku tidak bisa menahan air mataku sendiri.
"Hidupkan lagi mimpi-mimpi,
cita-cita,
cinta-cinta,
yang lama ku pendam sendiri."
Masih banyak sekali mimpi-mimpi yang aku pendam, duniaku. Aku masih ingin berbagi duniaku.
Seiring aku mendewasa, perspektifku tentang cerita Perahu Kertas pun berubah.
Dulu, aku pikir Kugy dan Keenan adalah pasangan yang sejati. "kalau aku sudah besar, aku pasti pilih Keenan."
tapi, ketika aku refleksikan lagi di umurku yang hampir tiga puluh ini, mungkin jawabanku tidak sesederhana itu. Lagipula, menurutku, Kugy ini lucu. Remigius padahal ada di hadapannya, nyata, tergapai. Tapi ia masih terjebak dalam dongengnya sendiri.
Kemudian aku sadar, namanya juga cerita fiksi.
Di realitas ini, di umur yang hampir tiga puluh ini, aku ternyata belum bertemu dengan Keenanku. Kepercayaan seseorang terhadap mimpi-mimpi kita tidak pernah jadi jaminan bahwa orang itu akan tetap bersama kita ketika mimpi-mimpi itu tercapai.
Keenanku menjelma dalam berbagai versi: orang tuaku yang selalu mendoakanku, adikku yang kerap kali mempertanyakan pilihan hidupku tapi di saat yang sama juga rela selalu membuat hidupku lebih mudah, sahabat-sahabatku yang selalu meyakinkan aku bahkan ketika aku tidak yakin dengan diri sendiri.
Keenanku bukan hanya satu orang dan tidak perlu jadi satu orang saja.
Mungkin lain kali ada saatnya ketika aku akhirnya bisa berbagi isi pikirku dengan orang lain.
Mungkin juga tidak. Tidak ada yang pernah tau.
Tapi yang aku tau, aku akan selalu bisa berbagi isi pikirku dengan diriku sendiri. Merunut satu per satu mimpi-mimpi yang sekarang sudah jadi identitas diri.
Aku pulang dengan perasaan hangat, sekaligus pertanyaan besar, "jadi sebenarnya apa itu mimpi?"
Kalau mimpiku jadi dokter,
kalau mimpiku masuk ke Oxford,
apakah artinya sekarang mimpi-mimpiku sudah habis?
Aku belum tau jawabannya.
Kita seringkali mengagungkan konsep bermimpi namun di saat yang sama juga kelimpungan sendiri ketika mimpi itu mulai "habis."
Tapi seseorang pernah bilang padaku, menurut film Tangled kesukaannya, justru itu bagian paling menyenangkan karena artinya kita bisa menyusun mimpi-mimpi baru.
Aku senang jadi pemimpi. Tapi kalau boleh jujur, aku ingin punya tempat berbagi isi kepala.
Momen menonton musikal Perahu Kertas ini juga bersamaan dengan momentum aku mengawali kehidupanku yang baru: bekerja.
konsep itu masih asing di kepalaku. Aku merantau lagi, kali ini jaraknya memang hanya 26 kilometer dari rumah. Tapi aku harus menyetir sendiri.
Lucu sekali karena waktu SMA aku ingin sekali bisa menyetir mobil sendiri, tapi ternyata ketika keadaan mengharuskan aku menyetir, aku justru tidak suka lagi karena membosankan. Mungkin karena aku juga pernah kecelakaan, jadi aku sedikit takut.
Di tempat kerja yang baru ini, aku kembali mempertanyakan mimpiku. apakah ini sepadan? apakah sebenarnya aku hanya mengikuti apa kata orang lain? apakah aku justru sedang jadi orang lain?
aku belum bisa menjawab aku mau jadi apa. ternyata impian jadi dokter itu tidak berhenti hanya dengan masuk Fakultas Kedokteran dan mengucapkan Sumpah Dokter. Ternyata impian itu lebih rumit dari yang aku pikirkan. Mungkin ketika aku mengimpikannya, aku masih terlalu muda, jadi belum tau bahwa setiap mimpi itu pasti ada konsekuensi.
Selepas lulus S2, aku tidak tahu apakah aku mau menjadi dokter yang berpraktik sebagai klinisi, atau dokter yang berada di pemerintahan, atau dokter yang melakukan penelitian, atau... apa? Semuanya terasa mungkin namun di saat yang sama juga tidak mungkin. Pertanyaan selanjutnya adalah, apa iya aku memang mau melakukan semuanya?
yang lebih dalam lagi, apa iya, aku hanya ingin melabeli diriku sebagai seorang dokter?
padahal sebelum ingin jadi dokter, aku lebih ingin jadi penulis.
aku lebih ingin menerbitkan buku puisiku sendiri.
aku lebih ingin menyelesaikan novelku kemudian novelnya jadi best seller dan diangkat menjadi film. Lalu aku roadshow keliling Indonesia.
rasanya isi kepalaku ini lebih rumit dan semua itu tidak cukup jika hanya ditempatkan dalam label seorang dokter.
tapi, aku pun sadar diri, semakin jarang saja aku menulis puisi.
membuka laptop untukku rasanya adalah sebuah kodok besar yang harus aku kunyah.
kunyahanku adalah jurnal-jurnal penelitian itu.
aku mulai merasa kehilangan arah.
kembali meracau di sini menyenangkan juga.
Kata Papah, aku harus lebih sering mendokumentasikan keresahanku di masa-masa transisi ini.
Sudah seminggu sejak aku kembali "bekerja". Sejak aku memperkenalkan diri kembali sebagai dokter.
Tanpa tahu, apakah memang sebenarnya ini jalan yang aku ingin jalani?
Tapi kamu sudah memilih. Sebagai orang dewasa, kamu harus tanggung jawab dengan pilihanmu.
Aku pun bingung, jadi biar kuceritakan saja. Supaya Fona di Masa Depan bisa membaca ini dengan perasaan lebih bijaksana.
Terimakasih Musikal Perahu Kertas.
Terimakasih Vina sudah menemani menonton.
Terimakasih sudah memberikan kesempatan untukku mengunjungi diriku yang masih penuh energi dan mimpi.
Semoga seiring berjalannya waktu, kita selalu diberikan kekuatan untuk memilih mimpi kita sekaligus menjalaninya.
Kalau dulu sebagai anak kecil aku berpikir mimpi itu artinya harus diraih, sekarang aku sadar bahwa sejatinya mimpi bukan hanya diraih. tapi dijalani.
karena aku pun sekarang sedang terus menerus menjalani mimpi-mimpiku sebelumnya.
Terakhir,
K & K adalah dongeng indah, F & F adalah tragedi.
Tapi tidak apa-apa, terimakasih sudah menghadirkan perasaan itu. sudah menjalani tahun-tahun panjang itu.
Kapal kita masih berlayar, Fona, nanti suatu hari, kita pasti akan berlabuh.
Salam sayang untuk Fona di Masa Depan,
f.