Monday, 20 June 2016

Kalau ada yang tanya, dimana tempat favorit Fona? 
Ruang tunggu bandara. 
Saya selalu datang 3 jam sebelum boarding, setelah berkali-kali melihat Papa ketinggalan pesawat, saya selalu antisipasi. 
Dan ternyata ruang tunggu bandara memang senyaman itu. Terlebih kalau nunggunya sendirian, saya betah banget. 
Room full of strangers. Wajah-wajah asing yang (belum) beririsan dengan kehidupan saya.
Memperhatikan bagaimana mereka menghabiskan waktu dengan caranya masing-masing. 

Menunggu memang hanya pekerjaan menghabiskan waktu, 
Lucu sebenarnya, mengingat kita pernah dalam situasi merasa waktu terlalu menggebu-gebu, 
Merasa yang tersisa kurang dan andai saja bisa, kita ingin meminta waktu. Satu hari saja, setidaknya.
Tapi di situasi lain kita malah mencari pekerjaan untuk menghabiskan waktu yang terasa teramat lowong.
Ah, memang terkadang seaneh itu. 

Tapi, bandara, ruang tunggu dan pesawat selalu punya kisahnya sendiri, bagi saya. 
Dan saya sadar, saya cinta menunggu. 
Digantung.
Tidak perlu bertemu dengan apa itu takdir. 
Somehow, kondisi ini membuat saya masih merasa aman. 

Karena...saya takut. 
Takut ketika takdir yang dijemput tidak sejalan dengan doa yang dipanjat. 

Kalau boleh memilih, saya siap menunggu hingga tahun keseribu, 
Nggak sih hiperbola. 


Mulai besok, nulis lagi ya Fon, Raia aja bisa kok sekalipun muse-nya pergi.
Muse-mu, siapa? 

Bengkulu, 19 Juni.
11.00pm 

No comments:

Post a Comment