Sunday, 14 January 2018

Perencana, Pemimpi dan Nelangsa

Dua minggu menjalani tahun 2018, dua kabar buruk menimpa saya.
So, yeah, hello, it's me, crying in the middle of the night again. 
Saya kira, pertama kali saya menangis deras, merutuk, mengutuk dan murung satu bulan sekaligus yang terakhir di episode hidup saya. 
Saya kira, waktu itu Tuhan hanya sedang memberi saya kesempatan merasakan kegagalan yang dalam. Gagal yang tidak pernah masuk perencanaan saya. 
Saya kira, saya benar. 
Saya kira, saya sudah sembuh.
Nyatanya, saya yang kerap kali memproklamirkan diri sebagai perencana ulung, tidak lebih dari seseorang yang hanya sedang mempersiapkan untuk menyakiti dirinya sendiri. 


Saya pikir, kejadian layaknya itu tidak akan pernah ada lagi karena saya sudah pernah merasakannya. 
Dan itu membuat saya tersiksa. 
5 stages of grief. 
1. Denial 
2. Anger
3. Bargaining 
4. Depression
5. Acceptance 
Kelima fase tersebut saya tempuh dalam waktu hingga mencapai berbulan-bulan, saya tidak ingat persisnya berapa lama, yang saya ingat, saya pernah datang ke sekolah hanya untuk menangis di pojok kelas, saya juga pernah menangis di angkutan kota dan saya pernah terduduk lemas di tengah lapangan bola sambil menangis. 

Lalu ternyata, empat tahun setelah 2014, saya merasakan menahan isak tangis di kereta yang penuh sesak. Saya merasakan lagi perlu mengatur napas hanya untuk menjawab pertanyaan, "Ada yang mau kamu sampaikan?"
Bodoh. 
Dan malam ini, saya kembali menangis terisak-isak di tengah malam, memeluk Ayah yang ketakutan putrinya dijahati orang atau mimpi teramat buruk. 
Pah, anakmu menangis bukan karena mimpi. 
Di mimpi, semuanya lebih baik dari ini. 

Gagal berkali-kali tidak lantas membuatmu lebih mahir karena setiap penolakan dan kegagalan rasanya sama, getir. Membuat kita mempertanyakan segalanya, memang apa yang salah?
Dahulu, saya belajar bahwa kemalangan yang menimpa saya akibat ulah saya sendiri bungkam. Kemudian, saya belajar pelan-pelan untuk berani mengatakan jika saya benar-benar mau. Tapi yang jelas, saya selalu diajarkan untuk mengucapkan sejujurnya tentang mampu. 
Ternyata, keberanian itu tidak lantas membuat kegagalan saya tidak terulang.

Cukup, saya sudah mengerti segala teorinya. Yes, everything happened for a reason. Saya pun percaya setiap orang memiliki jatah gagal dan berhasilnya masing-masing. 
Yang membuat saya frustasi adalah, saya lelah menghadapi 5 state of grief lagi dan lagi. 

Mau lihat bagaimana saya selalu membuat perangkap untuk diri saya sendiri?
You need to stop write this stupid bucket list, Fon. 
You'll never be enough. 

CTRL + X 

di akhir pun, semuanya tidak akan pernah berarti apa-apa.