Friday, 13 April 2018

Selasar C Lantai 3.


Bangku-bangku hijau sudah kosong, 
semua orang bersegera mungkin pergi, 
ada ujian dua hari lagi. 


Awalnya saya hanya mau mengutarakan rasa keberatan saja, 
tapi dipikir-pikir, semakin ke sini saya jarang deep talk, apalagi menulis di sini. 
Kalau boleh jujur, saya pun merasa malu dengan alasan-alasan cemen yang saya utarakan, 
semakin lama saya memang semakin tidak pandai mencari pembenaran dan berujung hanya kekhawatiran selintas. 
Contohnya, waktu itu saya minta berhenti, ditanya kenapa, ya saya hanya lelah. 
Kenapa ya jadi begini, argumen saya sendiri meragukan, pantas banyak orang yang tidak percaya. 

Di masa kuliah, saya coba mulai perhatikan orang-orang, tidak jarang saya dengar perkataan seperti, "Iya, gua tuh dulu gak pernah ikut organisasi. Di sekolah, kerjaan gua belajar doang."
Perkataan itu muncul dari orang-orang yang kini memegang amanah di mana-mana di kampus. 
Sementara saya? 
Hm, ada amanah juga sih, memusingkan juga, tapi ya tidak sebesar orang lain. 
Saya bukan orang nomor satu di mana-mana. 

Kalau direfleksikan ke diri sendiri, sejak sekolah dulu kerjaan saya ya mengurusi orang lain. 
Rapat sampai malam, dimarahi guru, lupa belajar kalau ujian, dibentak-bentak kakak kelas. 
Semua itu bukan hal baru bagi saya.
Tapi toh itu tidak menjadikan saya lantas berbeda dengan teman-teman saya yang lain, 
karena semakin dewasa kita tahu kalau setiap orang memiliki kebebasannya masing-masing untuk menentukan pilihan. 

Semester 4 akan berakhir dalam 2 bulan lagi. Kemudian, Agustus nanti angkatan saya resmi jadi yang paling tua di Depok. 
Cepat sekali ya?
Sudah 2 tahun saya jadi mahasiswa.
Tapi yang paling menyedihkan dari semua ini adalah, saya tidak bisa menjawab saya mau menjadi mahasiswa seperti apa. Pun tidak bisa mendefinisikan selama ini saya sudah menjadi mahasiswa seperti apa. 
Kehidupan kuliah yang repetitif, kuliah pengantar, kuliah, diskusi kelompok, mindmap, praktikum dan ujian terus menerus saya jalani. 
Sepulang kuliah, beberapa kali rapat di sekretariat. Pulang malam, langsung tertidur tanpa mandi. 
Terus begitu. 

Semakin hari, sayangnya saya semakin tidak menemukan makna di antara kehidupan repetitif itu. 
Sangat ironi ketika semakin dewasa, saya justru semakin terombang-ambing tidak punya mimpi.
Mungkin ini dilatarbelakangi juga setelah saya lagi-lagi harus menelan ludah ketika mimpi-mimpi saya hangus entah pergi ke mana.

Entahlah, mungkin saya hanya ingin berhenti. 
Mungkin saya hanya ingin menjalani kehidupan selayaknya orang-orang. 
Mungkin di saat-saat ini saya hanya ingin belajar saja, mempersiapkan ujian sebaik-baiknya. 
Toh hal tersebut bukan sesuatu yang salah kan?
Terdengar membosankan? Iya. 
Tapi belajar dengan sebaik-baiknya adalah hal yang baru di hidup saya. 

Di titik ini, saya hanya ingin beristirahat saja. 
Tidak perlu ada mimpi, tidak perlu ambisi. 
Saya sedang lelah terus berlari.

Sederhananya, mungkin saya ingin menjadikan hidup saya sederhana. 
Sesederhana saya bisa menyisihkan waktu untuk menulis di blog lagi. 

"Entah ya Fon, kalau aku lihat, semakin ke sini perubahan yang ada dan kejadian kemarin justru membuat kamu yang passionate, bisa menggerakan orang lain, bersemangat dan idealis kehilangan eager untuk doing so many great things at the same time. Passion dan keinginanmu semakin gak ada, bukannya jadi lebih baik..

Ah ya, mungkin saya rindu Fona yang itu. 
Semangat itu. 
Yang saya pupuk sebaik-baiknya agar tumbuh subur dan mengakar
Nyatanya, tumbang diterpa badai kemarin. 
Mungkin memang tanahnya tidak cocok,
saya tidak apa-apa.

Saya tidak tahu apakah sekarang saya masih punya idealisme, 
yang makin lama makin terkikis dengan pertanyaan "sebenarnya saya berbuat ini buat apa sih?"
Saya sendiri juga tidak bisa menjawab itu. 


Hm, semakin dewasa mengapa kita semakin bingung ya sebenarnya kita ini siapa?
Dan apakah diri kita yang sekarang memang sudah bentukan yang kita inginkan, 
atau justru kita hanya sedang berusaha untuk menjadi yang orang lain inginkan?

Entah,
di saat ini saya sedang butuh keyakinan bahwa waktu yang saya miliki sejatinya memang diciptakan ada untuk saya manfaatkan. 
termasuk memanfaatkannya untuk sekedar pulang ke Bogor, 
tidak ada apa-apa,
hanya mengaisi saja, 
mengapa dulu saya pernah punya mau,
sebesar itu. 
sekaligus punya waktu.

mungkin ini akibat sudah lama tidak merenung
semoga kita senantiasa tahu apa prioritas hidup, 
dan bagaimana selayaknya prioritas itu ditentukan kita sendiri
dan semoga waktu yang kita punya,
bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya 
termasuk membuat manfaat untuk diri kita sendiri. 


doakan ujian saya ya dua hari lagi.