Sunday, 20 December 2015

"Pah, Papah Mamah jangan sedih ya kalau nanti pas perpisahan orang-orang disebutin udah keterima dimana. Papah Mamah jangan marah juga ya kalau misalnya nanti pas orang-orang udah punya kuliah, teteh belum. Tapi janji kok, belajar lagi, janji, beneran deh."
"Loh, emangnya Papah peduli sama hal kayak gitu? 
Teh, sekolah itu cuma latihan hidup, apa yang menurut kita buruk sekarang belum tentu buruk di masa depan sana. Teman Papah ada tuh, dia keterimanya jadi guru SLB, setiap hari ngajarin anak-anak tunarungu, suatu hari tiba-tiba suaminya tuli. Seolah udah dipersiapkan kan, dia nggak kaget. Malah udah jago. Coba kalau orang lain yang ditimpa musibah kaya gitu, belum tentu kuat."
"....tew."


Rapot semester lima sudah dibagikan, hasilnya? Ya tidak sebagus orang-orang sih, tapi alhamdulillah. Terimakasih Bapak dan Ibu Guru. Rapot segitu jadi modal mau kemana.... ragu-seragu-ragunya. Minder. Orang-orang tinggi tinggi juga nilainya. 
"Bandung aja gimana teh?"
Hash. Panik. Sudah diduga bakal disuruh begini, ah nggak tau aja yang minat ke sana satu juta orang, susahnya sama aja. 
"Nggak... Nggak mau..."

Setidaknya, saya mau berjuang dulu. 
Setidaknya, saya mau mengejar semua pintu yang ada
Jika memang pada akhirnya, tidak, doakan saya ikhlas. 
Yang jelas, saya tidak mau menyesal lagi, mempertaruhkan apa yang benar-benar saya inginkan. 

Keesokan harinya, "Iya deh teh, di Depok aja ya. Biar Papah deket jenguknya juga, terus nama Fona kan kepikirannya pas Papah kuliah disana. Papah mau doainnya teteh di Depok ya, semangat ya."


....kalau memang saya terlampau banyak dosa sehingga doa-doanya masih ditunda, setidaknya, kabulkan doa orang tua saya. 


Selamat menentukan pilihan!

1 comment:

  1. Halo, Fon.

    Kalau kita menjalani mimpi, sekeras dan sesulit apapun perjalanannya kekuatan akan selalu datang dengan cara ajaibnya, kok.

    Selamat bermimpi dan menyusuri jalan untuk menjalaninya, fon.

    Percaya kan ya rejeki tidak akan kemana? :)

    ReplyDelete