Thursday, 26 February 2015

Surat Yang Tidak Terlarung

Hai Nus!
Udah lama nggak lapor, udah dua hari ini aku ke markas terus. Bener ya Nus, suara ombak itu musik paling merdu. 
Maaf ya Nus, harusnya surat ini aku larungkan, tapi aku nggak ada kertas, orang orang juga kalau ditanya punya kertas atau enggak, aku cuma diketawain, iya rasanya bodoh mengirim surat ke kamu Nus, tapi kan itu rutinitas ku. 
Nus, banyak yang mau aku ceritakan. 
Sekarang aku di salah satu tempat dimana dia ada, rasanya kami begitu dekat, sekaligus begitu jauh. 
Nus, aku kangen dia. Rindu jatuh cinta semudah itu. Tapi salah ku sendiri sih, udah mogok nulis satu tahun. 
Teman teman ku pasti ketawa kalau aku bilang jatuh cinta sama tokoh fiksi, karangan sendiri lagi. 
Sedikit Nus ternyata yang benar benar memahami aku. 
Aku merasa tersesat, Nus. 
Aku takut, makanya ku tuliskan saja. 
Nus, rasanya aku mulai memperhitungkan untuk tinggal disini, aku suka dualismenya Nus. 
Aku suka laut. 
Aku suka sepi. 

Lain kali, kalau aku ke markas lagi, suratnya pasti akan ku larungkan. 
Bali, berasal dari kata kembali. Kalau aku berharap semuanya akan kembali lagi, nggak apa apa kan? 
Semoga ya Nus. Aku capek diem-diem terus. 
Nus, semuanya cuma roda yang sedang berputar kan?





Jimbaran, 23 Februari 2015. 
Agen gabut. 






No comments:

Post a Comment