Saturday, 1 April 2017

Tahu Batasan Diri (tapi tidak membatasi diri)

Kutipan itu sangat legenderis pada zaman putih-abu saya. Diteriakan di tengah lapangan, sambil dijemur tentu saja. Diteriakan di dalam kelas, sambil ditanya "ini gak ada yang mau jawab?" 
Budaya yang mereka sebut konservatif tapi jika boleh jujur, saya masih merasa itu cara yang efektif untuk membuat seseorang berkembang.
Semakin dewasa, saya semakin sadar bahwa masa-masa itu memang dipersiapkan dengan saya. Kutipan "tahu batasan diri tapi tidak membatasi diri" maknanya lebih dari apa yang saya kira.
Kita sudah sepantasnya tau kapasitas, sejauh mana bisa bertindak. Akan tetapi, kapasitas sebenarnya tidak berbatas. Butuh usaha untuk memperluasnya, menembus batas-batas itu. 

Perkuliahan bukan hal yang mudah, dulu menelantarkan akademis (buat saya) it's not a big deal, hehe jangan ditiru (makanya gagal snmptn wkwkwk) namun hidup di lingkungan seperti apa yang saya jalani, mustahil jika cara hidup dan belajar saya masih sama. 
Ah, mungkin saya tidak akan bertahan lama.
Menjadi seorang mahasiswa dengan beban akademis yang begitu tinggi sekaligus dipenuhi tuntutan agar mencari pengalaman sebanyak-banyaknya bukan perkara mudah. 
Dan saya sadar, sehat itu sebegitu penting. 
Selama semester 2, tubuh saya kurang kooperatif. Mungkin alarm juga, nyeri kan mekanisme protektif. Sakit juga begitu. 
Telat makan sebentar, pulang larut sedikit, sakitnya seminggu. 
Ditambah jauh dari orang tua plus tidak ada ua (yang mengurus saya selama SMA) menambah derita saya, hanya terkulai lemah di sudut Pondok Cina, menyedihkan. 
Kalau sudah begitu, tahu batasan diri ternyata perlu. 


Belum berbuat banyak selama ini, 
JangN batasi diri juga ya!

No comments:

Post a Comment