Tuesday, 6 September 2016

Rak Buku

source : https://c.fastcompany.net/multisite_files/codesign/imagecache/inline-large/post-inline/hold-on-tight1.jpg


Terlibat dalam sebuah project pembuatan film, kegiatan pertama di masa kuliah ini. Brainstorming kemarin cukup menggugah pikiran saya, mengusik beberapa sudut yang selama ini belum pernah saya pikirkan. Definisi kebahagiaan; itu temanya. 

Filosofi sebuah rak buku. 
Ada beberapa orang di dunia ini yang menganggap untuk menjadikan hidup kita solid, hidup harus penuh, terisi sehingga saling menopang. Ibaratnya seperti rak buku, kalau buku dalam rak itu penuh, buku-bukunya akan berdiri tegak. 
Beberapa orang itu termasuk saya.

Selama ini saya rasa, semua sibuk akan menjadikan saya bahagia. Sibuk membuat hidup saya tertata; tidak ada buku yang jatuh. Saya rela membaca satu buku habis semata-mata untuk menggantinya dengan buku baru. Terus begitu, semakin hari saya hobi sekali mengisi rak buku. Buku-buku saya harus tetap pada tempatnya; sesuai ritmenya. 
Saya akan kelabakan setengah mati kalau menyadari rak buku itu mulai kosong sehingga buku-buku saya mulai berjatuhan. 

Mengawali fase kuliah benar-benar bukan hal yang mudah, rak buku saya kosong sekarang kosong sepenuhnya. Tidak ada lagi buku-buku semasa SMA saya, kesibukan-kesibukan itu sudah hilang. 
Bagaimana saya mau tidak mau kembali ke titik nol, bukan siapa-siapa saya disini, tidak bisa berbuat banyak saya di tempat ini. Tidak harus sebenarnya saya mengisi rak buku dengan tema sama dengan apa yang sudah saya punya dahulu, tidak harus tentang organisasi, rapat, pulang malam dan bikin acara terus menerus. Karena akhirnya saya sadar, membuat buku-buku itu tetap berdiri tegak tidak harus dengan mengisi rak buku sampai penuh, meletakkan barang yang lebih berarti di tengah-tengah sebagai pembatas juga sudah cukup. Sesederhana sebuah vas bunga atau figura kecil tempat foto bersama teman-teman lama. Sudah cukup, seharusnya. 

Nyatanya, saya akui, sibuk hanya sekedar pelarian saya. Sibuk bukan hal yang membuat saya bahagia karena sampai detik ini saya masih tidak bisa mendefinisikan apa itu kebahagiaan. 

Mulai sekarang, bukan saatnya lagi mencari kesibukan, kebahagiaan lebih penting untuk dicari. 

Omong-omong soal sibuk, sudah satu minggu jadi anak kuliah. Ternyata begini rasanya.
Masih belum belajar kedokteran, tapi tugas tetap beranak pinak terus menerus. Kalau dipikir-pikir waktunya lebih lowong dari semasa sekolah, tapi kok menunda-nundanya makin banyak ya?
Sejauh ini masih tugas akademis ditambah sedikit sekali tugas Masa Bimbingan, masih banyak harus belajar. Berada disini memang tidak akan pernah mudah. Terlebih saya anaknya pemalas dan hobi menunda-nunda.

Kalau bicara sibuk, yang jauh di sana lebih sibuk. Kadang bersyukur sambil menunggu giliran, apapun itu semoga sama-sama kuat berjuang. Ya, memang ini kan yang selalu kita sebut dalam doa?
Semoga bom waktu yang selalu saya takutkan tidak akan pernah terjadi, cukup perdebatan beberapa hari lalu. Nyatanya saya tidak akan sanggup. 

Buta arah akan jadi mahasiswa seperti apa; masih nyaman dengan zonanya untuk riweuh-riweuh bikin acara mungkin akan ditambah dengan coba-coba kritisi kebijakan. Halah gayamu, tugas aja keteteran. Bismillah.

Selamat mencari kebahagiaan dan berhenti merisaukan rak buku-mu Fon!

No comments:

Post a Comment