Sunday, 6 March 2016

Coba bayangkan, seorang Fona berjalan di koridor rumah sakit. Kemudian disapa, "selamat pagi, Ibu Direktur."
Coba bayangkan, lebih indah dibanding menjadi seseorang berjas putih yang lari-lari karena pasiennya kehabisan napas bukan?

Laknat emang buka LINE teh, udah bener gausah buka LINE segala. Dasar bandel.
Linglung lagi kan. Pusing lagi kan. Stress lagi kan. 
Dan disaat setengah sadar kaya gini, HP berbunyi.

"Teteh pernah berpikir sampai sana nggak?"
"Nggak..."
"Kalau diterima dan harus diambil teteh siap gak?"
"Ngga tau..."
"Pilihan lain selain itu?"
"Ngga tau..."
"Kalau harus diambil dan teteh ga punya kesempatan untuk tes lagi, siap?"
"......nggak tau..."
"Kalau teteh disana ngga bahagia, siap?"
"....ngga tau pah.."
"Kedokteran lain?"
"Nggak mau..."
"Punya pilihan lain nggak?"
"Nggak tau..."
"Kalau gak punya pilihan lain dan jawabnya cuma gak tahu dan gak mau. Ya gausah milih pilihan lain."
"Tapi nanti..."
"Setiap orang punya caranya sendiri-sendiri. Teteh punya cara sendiri buat dapet apa yang teteh mau. Ya kalau harus tes, yaudah tes. Gausah takut malu sama orang. Malu tuh kalau kita sampai menurunkan mimpi kita sendiri."
"...."
"Kalau teteh emang udah tahu mau apa ya dikejar, bukan malah lari. Atau farmasi? Biologi?"
"Nggak tahu..."
"Yang tahu diri teteh ya teteh sendiri, bahkan mamah papah pun cuma bisa ngasih pendapat. Akhirnya yang ngejalanin teteh juga. Jadinya gimana?"
"...... tapi Pah..."
"Udahlah mending pilih satu aja. Biar doanya juga fokus."
"Yaudah...."
"Yaudah apa?"
"Yaudah iya...."
"Berdoa minta tempat yang Allah ridhai, biar kita juga bahagia nantinya. Pokoknya jangan malu sama orang-orang. Setiap orang punya jalannya masing-masing, bentuklah jalan itu. Papah ga pernah maksa apa-apa. Cuma Papah gamau anaknya takut-takut terus. Udah ya, istirahat ya."
"...iya..." 


entah harus bersyukur atau apa punya orang yang selalu bisa menampar berkali-kali. 
tepat di depan muka.
padahal orangnya dimana tau,
pokoknya jangan pernah malu punya anak kaya saya ya....

sini, snelli dan stetoskop, jadi punya ku ya

3 comments:

  1. Fona, entah mengapa malem-malem kayak gini tangan dengan sendirinya ngesearch blog fona. Gak nyangka bakal melihat post ini. Dan apa yang ayah fona bilang, sama banget sama apa yg orang tua aku bilang. Ternyata, orang yang merasakan hal yang sama bukan cuma kita ya?

    Tenang fona tidak sendirian, semoga Allah menguatkan kita, apapun jalannya :)

    ReplyDelete
  2. "Kalau lu mau, lu pasti bisa. Kalau lu nggak bisa, berarti lu nggak bener-bener mau." - Rais Fathin

    Semangat Fona.
    Entah apapun pada akhirnya, sampai bertemu dengan cerita-cerita ajaib di bidang kita yang.. sama sekali nggak sama :)

    Eh, atau ada niat mau nyusul nyerempet kesini? (:

    ReplyDelete