Thursday, 18 February 2016

Penutup Telinga

Mulai merasa sifat sifat buruk satu persatu bermuncul; apatis, dikit-dikit kerjaannya kabur, menolak berkomunikasi, lebih memilih sendiri, nggak seramah biasanya, jawab apa apa seadanya, dingin, kaku, menatap seseorang nggak jarang sinis, mengusir secara tidak langsung. Ah. Jahat ya terkesannya?

Nggak, sama sekali nggak bermaksud gitu. Nggak berniat untuk berubah jadi sebegininya. Tapi saya takut sungguhan takut. Saya rasa itu satu satunya cara pertahanan diri yang tersisa, setidaknya untuk melindungi diri. 
Butuh tempat kabur, tempat dimana nggak perlu ada orang yang ngomongin rata rata dan peringkat.
Butuh teman bicara, cukup mendengar saja.

Trending topic banget ya soal universitas ini, sampai terdengar dimana-mana. Nggak ada yang salah juga sih, orang-orang khawatir sama masa depannya, tapi khawatir sama masa depan orang, emangnya perlu?
Tapi gak ada yang sadar juga sih saya berubahnya begini, mungkin lebih baik begini?
Saya seinferior itu, saya yang dibilang nilainya gak terlalu tinggi itu.
Setidaknya suasana akan tetap seperti ini sampai Mei, itu berarti masih tiga bulan lagi tersiksa begini.
Udah atuh ya. Udahan.
Mau jauh-jauh aja dari orang-orang, jadi kalau ngga sengaja ketemu dan kelihatan jadi zombie, mohon maaf ya. 


Besok foto buku tahunan OSIS. Ah, ingin pulang sesegera mungkin.
Ingin semua menjadi menyenangkan lagi,
Ingin pergi ke sekolah tanpa harus dibayang-bayangi pertanyaan, "rata-ratanya berapa sih?"

No comments:

Post a Comment