Friday, 1 January 2016

Saatnya.

Sepuluh menit terakhir di dua ribu lima belas dan bunyi petasan semakin menjadi-jadi, sungguh saya ingin tidur.
Manusia hobi membuat berbagai macam perayaan yang dirancangnya, diselebrasikan, lalu dilupakan begitu saja. Kalau tidak, tentu tidak perlu ada selamat ini dan selamat itu.
"Dimana, Teh?"
Jujur saja kami bukan keluarga yang sering membuat perayaan, hal yang akhir-akhir ini mulai saya syukuri. Saya lebih memilih berdiam diri di kamar dibanding harus bermacet-macetan di luar sana, tapi itu pilihan kan?
Karena sekarang, sudah bukan saatnya lagi mengucapkan, "Selamat Tahun Baru."

Dua ribu lima belas adalah tahun yang benar-benar mendewasakan, tahun yang ritmenya cepat dan menuntut, menggembleng saya untuk terus mengikuti alurnya, meski kadang terseok-seok. Saya bersyukur pernah mengalaminya. Banyak cerita, banyak rahasia, banyak pesan-pesannya.

Dan yang saya lakukan di penghujung tahun ini adalah, menulis.
Merindukan sosok pemimpi dan pengkhayal diri sendiri.
Yang selalu diulang setiap tahun masih dan akan tetap sama, selesai.
Ah, jangan terlalu menambah beban, biarkan itu sendiri yang jadi obat ketika dunia berputar diluar kendali, biarkan jadi tempat pelarian senyaman-nyamannya.

Terakhir, selamat bertambah dewasa di setiap tahunnya.
Hari pertama untuk berbuat lebih, kan?
Jadilah pemimpi terhebat yang kamu bisa Fon,
sesekali wujudkan ya.

Karena tidak ada yang pernah menjanjikan tahun ini akan mudah.
Selamat berkaca, selamat memperbaiki apa-apa yang belum sempat dicapai.
Selamat berjalan lebih jauh, berjuang lebih keras dan berdoa lebih banyak.


-yang tahun ini, insya Allah, berjas kuning-





"Kita semua pernah menjadi kembang api di tahun baru seseorang, terbang menyala, meredup, kemudian selesai."- Karizunique
00. 1 Januari 2016. 
1/366..

1 comment:

  1. Ga ada aku. Kecewa berat, ah. HEHEHEHE. Bohong deh. Selamat menyihir mimpi menjadi terealisasi,Fon. Cie pertama kali comment ini HAHAHAHA.

    ReplyDelete