Monday, 11 January 2016

Hunger Games

Tersebutlah satu jam pelajaran kosong, Bu Euis, guru BK saya masuk ke kelas. Beliau menjelaskan tentang pilihan pilihan, lalu menyerahkan kertas kosong. Disana tertera nama universitas. Dan wajib diisi, katanya untuk mengetahui daya saing. Saya tertohok. "Hunger games 2016....begins"

Terhitung 4 hari sejak kertas itu dibagikan dan masih belum berani menuliskan nama sendiri disana. Masih belum punya nyali melihat nama di akte kelahiran saya bersanding dengan jurusan di universitas impian, yang masih saja tersebut setiap sujud terakhir. 
Hasil sejauh ini menampar saya berkali-kali, saya tidak sepintar itu, yakin mau kesana?  

Sejak pulang dari NF jam delapan tadi, di angkot nggak henti hentinya gelisah. Memikirkan banyak hal kemana-mana. 
"Pisahin takut ngga keterima sama yakin dengan pilihan."

Kalau dibilang yakin, saya masih yakin, tapi rasa takut itu masih menguasi lebih dari setengah hati saya. Akhirnya mukena basah. Merasa putus asa dan cuma pengen nangis sederas derasnya. Dan yang menohok hati, persis buka random dan yang terbaca adalah, "Dan yakinlah bahwa janji Allah itu benar. Dan memohon ampunlah atas dosa dosamu kepada Tuhanmu dan  sebutlah nama Tuhanmu di setiap pagi dan petang." 

Ternyata gelisahnya belum hilang juga, malah makin menjadi. Akhirnya jam 10 memutuskan telepon Papah Mamah. Jawabin pertanyaan mereka terbata-bata, mereka menjawab dengan sangat tenang dan menenangkan, seolah tau memang ketenangan yang saya perlukan.
Menghabiskan waktu empat puluh lima menit mengobrol dengan mereka, ternyata ini jawaban segala gelisahnya. Karena sejauh apapun mereka, mereka adalah seampuh ampuhnya obat. 
Ajaibnya, setelah telepon itu ditutup, satu persatu yang rasanya berat mulai terangkat. 


Semoga ini jawaban dari segala gelisah yang terus menyergap dan menjalar di setiap harinya....
sebaik-baiknya tempat pulang adalah orang tua.

Bersyukur memiliki dua orang yang selalu bisa menenangkan badai, yang selalu memastikan semuanya akan baik baik saja, yang selalu ada bahkan kalau ditelepon pagi pagi buta. 



"Aku gak bisa maksain diri menyukai apa yang sebetulnya bukan minatku, walaupun aku mampu. Aku juga nggak bisa pura-pura lupa dengan cita-citaku, impianku. Biarpun satu dunia ngegoblok-goblokin aku, tapi memang ini yang aku mau."-Kugy.



No comments:

Post a Comment