Saturday, 14 March 2015

Menyempatkan.

Kalau nggak ada Trixie, mana tau saya cerita ke siapa soal begini-begini, setidaknya bersama teman satu nasib memang terasa lebih dimengerti kan?
Saya bukan sekali dua kali cerita ke orang-orang, entah itu yang tiba-tiba menyadari kemurungan saya terus bertanya atau yang memang sengaja saya ceritakan, responnya sama. Saya tidak mendapat apa-apa, bukan, bukan, mereka sudah sangat baik sudi mendengar cerita saya, tapi saya seolah belum menemukan apa yang saya cari. Karena sebenarnya mereka pun tidak memiliki apa yang saya cari. 
Baru sadar, nggak akan ada yang percaya kamu hebat kecuali kamu nunjukin sendiri. 
Nggak pernah ada yang suka sama tukang ngeluh. 

Akhir-akhir ini jarang disapa. Jarang ditelepon. Jarang ditanya kabar. 
Terus saya sempatkan, "Mah teteh kangen."

"Fon, mama gua waktu itu pernah mau ngajak skype, tapi nggak jadi katanya takut ganggu gua."
Nah kan, dia bukan orang yang bisa berkata-kata bagus, tapi dia ngomong yang bikin nyes. 


Dulu, di telepon sampai 24 kali, di sms sampai 10 kali.
Dan dengan entengnya saya jawab, "Maaf Mah, hp-nya mati."
Dulu, ditungguin di rumah 24 jam,
Dan dengan ringannya saya izin, "Hari ini ada OSIS ya pulangnya malem"
Mereka selalu berjanji sama saya, nggak akan pernah membatasi saya, dan benar-benar mereka melakukan itu.
"Iya, biasa kok anaknya nggak pernah ada setiap hari Minggu."


dulu teteh itu pemalu banget, mamah sampai kesel, gak mau ngomong, temennya cuma boneka, akhirnya mamah usahain biar kamu berani ngomong, berani bicara depan orang-orang. 
eh keterusan ya, sampai-sampai kadang lupa bicara sama mamah papah. 

No comments:

Post a Comment