Saturday, 28 February 2015

Pernahkah?

Suatu ketika, ada yang bertanya kepada ku.
"Saya hanya penasaran, pernahkah Sang Penyihir Aksara jatuh cinta?"
Sebenarnya itu adalah kutipan salah satu buku, hanya diganti subjeknya saja. Sebenarnya, itu hanya pertanyaan iseng orang-orang entah siapa.
Sebenarnya, itu bukan masalah besar.
Tapi sayangnya otak kita ini sering menganggap besar sesuatu yang sebenarnya tidak besar, bukan?
Kemudian aku berfikir keras. Keras sekali.
Saking kerasnya, aku bahkan belum bisa mendengar suara hati sendiri,
Lalu, sejujurnya, pernahkah?
Pernahkah kamu tidak butuh siapa-siapa lagi untuk menjadi manusia paling jujur?
Pernahkah kamu bertemu seseorang dan yang perlu dia lakukan adalah menjadi ada dan itu sudah lebih dari cukup untuk mu?
Pernahkah kamu mempercayakan semua sisi tergelap dari keterangan yang selama ini kamu buat-buat, hanya pada satu orang?
Pernahkah kamu merasa ketika dia bersama kamu, kamu mendapatkan kembali serpihan remah roti yang kau cari-cari?
Pernahkah kamu menemukan peta pulang dan selalu terlihat sebagai bintang paling terang?
Pernahkah kamu rela berbagi dunia mu?
Pernahkah kamu bahkan tidak peduli jika dia memang pada akhirnya, hanya menjadikan kamu tempat lari. Karena setelah matahari terbit lagi, tidak ada yang berarti.
Mungkin, aku tidak pernah jatuh cinta.
Aku hanya kesepian.

No comments:

Post a Comment