28/06/2021

Law of Attraction

Bagiku kamu satu-satunya
Bagimu aku salah satunya. 

Hari ini video call sama Putri karena dia lagi isolasi mandiri dan saya terlalu lelah  melihat deretan tugas. Kemudian kami sama-sama menyadari soal kisah nyata "law of attraction" dan sibuk tenggelam membahasnya

Sebenarnya selama ini saya percaya dan mengalami sendiri kalau banyak mimpi-mimpi yang bisa terwujud dengan kekuatan pikiran kita. 
Kalau kita mengulang-ngulang merapalnya dalam doa, mengulang-ngulang menceritakannya dengan emosi penuh, dan mengulang-ngulang betapa inginnya hal itu terwujud. 

Saya masih gemetar sebenarnya hari ini resmi mendapat alamat email "fona.hadibrata21@imperial.ac.uk" 
London teramat jauh, hampir mustahil. Mana mungkin nama saya bersandang sebagai mahasiswa di salah satu kampus 10 besar dunia. 
But it happened. Alhamdulillah. 

Sayangnya, yang terkadang luput dari kesadaran kita adalah, konsep law of attraction ini ternyata tidak berlaku untuk mimpi-mimpi indah. Di dunia ini ternyata ada juga mimpi-mimpi buruk. 
Sebuah konsep lahirnya blog ini: sebagai tempat saya menuangkan daydreams and nightmares.

Saya dan Putri sama-sama menyadari kalau ternyata takdir yang menimpa kami berdua sebenarnya sudah kami prediksi sendiri dalam bentuk ketakutan kami. 

Ketakutan terbesar saya adalah digantikan oleh orang lain. dikhianati. 
Saya yakin semua orang takut dengan itu namun saya baru sadar, ketakutan saya seringkali jadi tidak wajar. Mungkin karena beberapa kejadian di sekitar yang melibatkan teman-teman terdekat saya, atau sesederhana terbawa hanyut dalam cerita novel atau film yang saya nikmati. 
Singkat cerita, saya hidup dalam ketakutan itu. 

Rasa takut diselingkuhi itu terus bermanifestasi menjadi kekhawatiran-kekhawatiran yang sering muncul ke permukaan. 
Bahkan, saya pernah meminta untuk menyudahi  karena takut disakiti. Saya pikir waktu itu adalah bentuk proteksi diri. You cannot hurt me if I hurt you first.  

Lama, lama, lama saya belajar bagaimana untuk mengelola pikiran saya sendiri, memisahkan apa yang cuma ketakutan dan mana yang memang kenyataan. 
Tapi ketika ternyata pikiran saya ternyata adalah kenyataan, 
lantas mengapa masih saya yang disalahkan?

Saya tidak habis pikir. Saya letakan kepercayaan seutuhnya dengan harapan hal itu tidak terjadi pada saya, yet he chose that way to hurt me because he knew exactly, how to kill me in the most scariest way. he knew exactly.  
Saya runtuh seruntuh-runtuhnya.
Saya juga belum bisa bilang saat ini sudah sembuh, mengingatnya ternyata masih terasa sakit, to some extent. 

Dari obrolan dengan Putri, yang kurang lebih pernah merasakan masalah dengan bebannya sendiri, saya jadi sadar kalau law of attraction itu ternyata benar adanya. 
Kalau kita yakin itu akan terjadi, maka akan terjadi. Selayaknya doa yang dirapal terus-menerus, cerita yang diucapkan berulang-ulang dengan emosi penuh, sekaligus akan sehancur apa jika memang mimpi buruk itu terjadi. 

Ini sebuah pesan menohok supaya saya berhenti untuk overthinking berlebihan.
Untuk berhenti memikirkan hal buruk sebelum itu bener-benar terjadi.
Tidak lagi-lagi saya biarkan diri sendiri hidup dalam ketakutan yang bahkan belum pasti terjadi dan justru akan semakin menjadi kalau terus dipikirkan. 

Semoga pikiran kita bisa selalu memikirkan hal-hal baik. 
Doakan Summer School saya 2 minggu lagi, berbarengan dengan Modul Dermatoverenologi yang 90% adalah kompetensi dokter umum. 
Doakan doakan doakan. 

No comments:

Post a Comment