Thursday, 6 October 2016

Home

How does it feels when you know that your home no longer feels like home?
Terakhir kali sebelum mau tidak mau pergi kondisi rumah itu masih baik-baik saja, semua masih tertata dan tersusun tepat pada tempatnya.
Pulang adalah sebuah kata yang terus menerus terngiang-ngiang
Membayangkan seberapa nyaman dan menenangkannya definisi rumah kita itu.
Tapi, pada akhirnya, bagaimana jika rumah yang ada di pikiran kita hanya ada sebatas di pikiran kita saja?
Seiring kita pergi, ternyata nyawa rumah itu ikut pergi. 
Dan mendadak, semua terasa asing, bahkan di sebuah tempat yang kita sebut, rumah. 

Selama enam tahun, saya tidak pernah menginjakan kaki di rumah nenek lagi, kali terakhir adalah saat nenek saya dikebumikan. Setelah itu, sudah. Tidak ada alasan lagi untuk pulang kampung saat lebaran. Masih teringat di kepala saya bagaimana suara-suara anak kecil berlarian di halaman belakang, berebut memanjat pohon mangga. Atau menjelang buka puasa melihat orang tua kami bermain voli di lapangan depan rumah. Atau sekedar berbagi cerita di ruang tengah dan kamar orang tua kami dahulu. Suasana itu yang selalu memanggil-manggil saya untuk pergi ke sana lagi. Sampai suatu hari, tepat setelah saya berhasil mencapai cita-cita almarhum kakek, saya memiliki kesempatan untuk pergi ke sana. 
Sepanjang perjalanan yang saya bayangkan adalah kenangan-kenangan masa kecil itu, memanggil penuh rindu. 
Tapi ternyata, enam tahun lebih dari cukup mengubah rumah tersebut menjadi sebuah bangunan usang yang tidak saya kenali. Lapangan tempat bermain voli setiap sore sudah tidak ada diganti rumput-rumput menjulang tinggi tak pernah dibebat dan tumpukan plastik-plastik sampah. Lorong-lorong rumah sunyi dan penuh debu. Bahkan, pintu ke halaman belakang sudah dikunci dan entah disimpan dimana kuncinya. Tidak ada lagi kehangatan di rumah itu, yang ada hanya barang-barang lapuk yang semakin menua dan tidak tahu milik siapa. Rumah itu tidak tahu lagi nasibnya seperti apa, seiring penghuninya pergi satu per satu ke kota lain, membangun istana mereka masing-masing. Menyisakan tanda tanya besar, jadi semua yang ada di kepala saya sebenarnya pergi kemana?

Begitupun dengan rumah saya, ditinggalkan.
Menyisakan debu-debu tak kasat mata yang sesekali mengingatkan tentang apa yang pernah ada di sana. 
Tidak ada lagi suara televisi di ruang keluarga, kompor di dapur tidak menyala, ruang kerja ayah lampunya padam, kamar-kamar kosong tidak berpenghuni. 
Saya pun kehilangan definisi rumah itu. 

Lalu, bagaimana jika ternyata arti rumah yang ada di kepala saya ternyata memang tidak pernah benar benar ada?
Kita bisa saja selalu mendambakan sebuah pertemuan dengan apapun dan siapapun yang kita sebut rumah, 
tapi ketika mendadak rumah itu sudah berubah selama kita pergi, 
apa kita siap?

No comments:

Post a Comment