Friday, 5 February 2016

Tentang Yang Terjadi di Semester-Semester.

Satu semester itu enam bulan, dua semester itu satu tingkat, setiap satu tahun sekali turun lantai. Seharusnya, turun lantai menaikkan kecepatan. 
Terpampang jelas di hadapan mata, angka-angka yang katanya menjadi penentu masa depan. Daridulu selalu menghindar membicarakan nilai, enggan menghitung pencapaian, lari dari angka-angka itu. Sampai akhirnya, tahu sendiri kan, terhenyak. Kecewa? Iya. Merasa seharusnya bisa lebih, tapi itu cuma perasaan kamu aja. Lalu... kenapa? sebenarnya apa saja yang kamu lakukan di semester-semester itu?


Sebagian jawabannya mungkin terangkum dari foto-foto di atas. Saya memang sedih dengan angka-angka yang rasanya amat sangat jauh untuk menggapai mimpi yang terlampau tinggi itu. Tapi, sungguh, tidak ada rasa sesal sama sekali. Saya tidak menyesal pernah menyisihkan jam-jam tidur saya, tidak menyesal bergemelut dalam ranah itu, tidak menyesal pernah menjadi orang yang teramat beruntung diberi kesempatan untuk berbuat lebih. Karena jika tanpa tempat itu, diri saya yang sekarang mungkin tidak pernah ada. 
Mungkin, akhir-akhir ini cerita tentang rumah itu sudah tidak terdengar lagi, karena bagaimanapun orang-orang sudah pergi. Tidak ada lagi yang membicarakannya. Seolah tempat hebat itu lenyap ditiup angin begitu saja. 

Semester tiga dan empat saya bukan suatu pencapaian yang bagus, kalau boleh dibilang mungkin yang menjadikan angka-angka itu tidak sebesar milik orang-orang lain. Tapi di semester tiga dan empat itu, saya belajar hal yang lebih banyak. 
Saya belajar jatuh, saya belajar hancur, sekaligus belajar berjalan meski harus tertatih-tatih. 
Saya gagal, ini dan itu. Meski merasa sudah memberi segala yang saya punya, lagi-lagi mungkin hanya perasaan saja. 
Tapi di semester tiga dan empat itu, saya hidup. 

Malam yang sama setelah saya menerima map biru berisi pencapaian lima semester, saya gemetar. 
Ketakutan itu datang lagi, menyergap tiba-tiba, menguasai dan menggerogoti, membuat saya jadi seonggok manusia yang hanya bisa meratap di pojok kamar. Saya hilang kendali dan menjadi selemah-lemahnya versi diri. 
Tidak, bukan karena hasilnya. Saya sudah tahu sejak awal, itu bagian dari konsekuensi yang harus saya terima. Saya juga tahu memang segitu, ya terus kenapa? 
Yang sampai detik ini belum bisa saya hadapi adalah konsekuensi sosial yang akan menyerang. 
Saya takut sama orang-orang. 
Saya benci ketika mimpi saya dipertanyakan, saat saya merasa sudah yakin. 
Bisakah orang-orang berhenti bertanya kondisi orang lain yang sudah jelas megap-megap kehabisan napas mencoba bertahan hidup semampunya?
Lalu untuk apa semua pertanyaan itu? Untuk kembali mempertegas bahwa mimpi saya teramat tinggi?
"....atau gak usah ya."
"Iya, mending gak usah. Emang kenapa sih harus itu banget? Kalau memang beneran niat seharusnya dimana aja."
Jadi, dipikiran orang-orang niat saya belum lurus ya?
Iya terlalu tinggi iya. 

Karena kita tidak pernah benar benar paham alasan seseorang berani memilih mimpi-mimpinya, 
Tidak pernah berjalan di atas sepatu mereka untuk sampai di titik ini
Tidak pernah menapaki jalan yang sama
Tidak pernah tahu pula badai apa yang pernah menerpanya. 
Lantas, mengapa pula sejahat itu mempertanyakan mimpi yang tidak mereka jalani?

Mungkin alasan saya dangkal, saya hanya tidak ingin jauh dari orang tua (lagi)
Mungkin itu sepele bagi orang-orang di luar sana, "Kuliah kan memang masanya untuk mendewasa."
Sebenarnya saya benci memperlemah diri dengan menyalahkan keadaan, karena bagaimanapun saya yang memilih keadaan ini. 
Tapi saya merasa sudah lebih dari cukup saya hidup jauh hampir tiga tahun dari orang tua, 
sudah cukup kehilangan waktu yang seharusnya saya miliki bersama mereka. 
Tidak, saya tidak meratapi kondisi hubungan jarak jauh ini, lagi-lagi saya bersyukur. 
Tidak ada yang menjamin pula saya akan lebih baik jika tidak memilih jalan ini.

Karena kalau boleh jujur, saya sudah mendewasa lebih dulu. 
Tapi bukan berarti saya mau mengulangi itu lebih lama lagi, sudah cukup. 

Dan untuk jurusan yang masih saja tersebut dalam sujud terakhir, alasan saya sederhana. 
Mungkin berbeda pula dengan orang-orang. 
Saya belum punya niat untuk mengabdi, ah rasanya saya bukan orang seidealis itu
Alasan saya juga bukan karena ingin mencari pahala, toh lahan berbuat baik di dunia ini terhampar luas
Saya hanya.... jatuh cinta dengan itu
Saya tidak keberatan belajar hal itu seumur hidup, serumit dan sekompleks apapun kelihatannya. 
Saya siap menghabiskan waktu saya. 
Saya tidak ingin masih mempertanyakan mengapa saya harus mempelajari sesuatu, saya mau saya belajar karena memang saya memilih untuk belajar. 

Iya, sesederhana itu. 
Tapi tidak sedangkal itu. 

Jadi, tolong ya, tidak usah dipertanyakan lagi.


Ah iya, ranah itu juga mengajarkan saya kekuatan mimpi, keajaiban doa dan kebaikan semesta. 
"Tidak ada mimpi yang terlalu besar dan tidak ada pemimpi yang terlalu kecil."

Jangan ketawain saya ya, yang nilainya kecil begini tapi masih nekat-nekat aja, 
toh ketika nanti saya jatuh pun semua orang akan terbang sendiri-sendiri? Beberapa paling hanya melongok sebentar, setelah itu kembali mengepak-ngepak sayap. Meninggalkan yang tersungkur bersimbah darah, tertatih-tatih bangkit. 
Saya tidak meminta manusia-manusia itu menangkap kok, kalau pun memang saya jatuh nanti, yang sakit saya sendiri. 
Tolong jauh-jauh sana, pergi. 


we're gonna fight, fight, osis fight
we're gonna win, win, osis win
we're gonna fight, fight, fight
we're gonna win, win, win

 
"Sebenarnya beban dulu lebih berat, tapi kalau dua belas ini usahanya harus lebih keras fon, tau kenapa? Karena kita sekarang berjuangnya sendiri-sendiri. Nggak ada yang menopang saat mulai goyang, nggak ada yang menahan saat mulai goyah, kecuali kita sendiri. Dulu kan sama-sama, sekarang orang-orang udah sibuk sendiri-sendiri. Itu yang membuat semuanya jadi berlipat kali lebih susah."

"Tapi percaya deh, kebaikan selalu datang kepada orang yang tepat kala membutuhkan kok."




yang masih, masih, masih mengais semangat.  

1 comment: