Wednesday, 18 November 2015

Iri

dengan orang-orang yang masih bisa melihat kesempatan, yang dengan mudahnya mencari peluang, yang fleksibel dan menganggap hidup mereka akan mudah; karena memang begitu adanya. 
dengan orang-orang yang berkemampuan di atas rata-rata, yang tidak perlu lagi berlari sekencang-kencangnya untuk menyusul yang lain, sementara saya disini terseok-seok
dengan orang-orang yang pikirannya terbuka, yang masih melirik kemungkinan-kemungkinan yang mereka punya. 

"kalau gua, mungkin karena gua masih belum punya passion Fon. Beda kan sama lu, cara pandang kita beda. Lu mah mau ngejabanin sampai jalur apa aja kan?"
jawabannya : tidak juga sih. 

Saya takut, sungguh takut. 
what if, setelah saya berjuang mati-matian pun, jika memang ditakdirkan masuk pun, ternyata bukan itu yang benar benar saya mau?
saya masih belum bisa membayangkan diri saya di masa depan adalah seseorang berjas putih yang bulak-balik rumah sakit, tanpa peduli itu jam berapa kemudian dengan ramahnya menyapa pasien. 
menyuntik, mengukur tekanan darah, mendiagnosis, menulis resep obat. Saya bukan orang yang jago menduga-duga. 
karena profesi ini terlalu jelas. 
Saya masih belum bisa melihat diri saya sebagai sosok penyembuh. 
saya hanya...ingin bahagia selamanya. 


Dan yang membuat saya tersiksa adalah, saya orangnya saklek. Susah berubah kalau punya keinginan. Itu sungguh tidak bagus. 
Ujung-ujungnya nggak pernah bisa melihat peluang. 
Ah, jadi anak kecil jauh lebih mudah dari semua ini.

No comments:

Post a Comment