Sunday, 9 August 2015

Tahun Depan

2 kata di atas selalu diucapkan setiap tahun, turun temurun. Sesungguhnya 2 kata itu penuh teka-teki, sekaligus misteri. Sekalipun di dalamnya terselip doa dan pengharapan, tapi itulah yang membuatnya semakin menyeramkan. Karena setiap tahun, pertanyaan tahun-tahun lalu terjawab. Saya pernah mengungkit tentang “tahun depan” tentang konsep rezeki sekaligus takdir. Ternyata beginilah jawaban tahun depan bagi tahun pertama saya. 
1) Jawabannya adalah tidak, ternyata kesempatan itu tidak pernah ada, saya juga masih bertanya-tanya mengapa, mungkin masih tentang kadar usaha serta doanya. 
2) Sekalipun kesempatan itu memang sudah ada, mungkin ditambah dengan usaha serta doa, langit memiliki mekanismenya sendiri. Yang terkadang mendorong kita jatuh sangat jauh. Terhempas. Lagi-lagi, saya masih belum mengerti tentang yang ini. “Tahun depan” saya tidak semembahagiakan itu. Dalam sekejap, semua rencana, usaha, doa, apapun itu, mulai nyata, dan kenyataannya ternyata tidak sama, sama sekali tidak sama dengan apa yg dicita-citakan. Kadang, pilihan terakhir memang menerima, walau masih belum bisa dijelaskan kadar penerimaannya itu. 
3) Saya banyak kehilangan. Target-target itu terpenuhi 1/4nya pun tidak. 

Dan, saya tidak ingin kecewa lagi di tahun depan kedua saya. Tapi bagaimana pun saya percaya, setiap manusia memiliki jatah bahagianya sendiri. Contohnya satu orang punya jatah bahagia 10, mungkin jika impian saya terwujud banyak di tahun ini, jatah bahagia saya sampai besar hanya 5.








… saya selalu diajarkan untuk menabung. 




((masih belum berani jadi orang yang memproklamirkan mimpi, ciut sendiri.))

No comments:

Post a Comment