Wednesday, 10 June 2015

Terjun Bebas

Dulu, salah seorang guru SMA saya bicara di depan kelas bagaimana nilai saya jatuh meluncur terjun bebas. Malu sekali saya saat itu. Di depan orang-orang, beliau katakan secara gamblang, bagaimana bisa saya dari sekian menjadi sekian?
Nilai... ah nilai. 
Angka-angka itu kadang bisa bikin gila, ya?
Bagaimana angka-angka bisa merubah persepsi orang tentang kita, membuat opini-opini baru. 
Tidak, saya tahu betapa pentingnya nilai, saya pensiun jadi orang idealis yang bilang bahwa nilai itu tidak penting. Kita butuh nilai. Setidaknya untuk membantu proses pendidikan, mengantar kita ke jenjang selanjutnya. Kita butuh nilai.
Tapi bodohnya saya, saya baru sadar kalau nilai sepenting itu sekarang, saat kesempatan yang saya punya tinggal satu lagi. Satu. 
Sedih membayangkan bagaimana kondisi nilai saya akhir-akhir ini, entah saya yang memang kehilangan semangat belajar atau pelajarannya yang sulit dimengerti. Tapi rasanya ini semua salah, jika dibandingkan dengan Fona si ambisius. Sekarang Fona yang ada adalah.... Fona yang yaudah. 
Sebenarnya go with the flow itu salah nggak sih?
Tapi saya juga gak bisa berbuat banyak. 

Sesusah itu ya belajar sekeras teman-teman yang lain? 
Sesusah itu ya sedikit lebih teliti?
Sesusah itu ya  nggak gampang nyerah?
Harusnya bisa lebih kan... Harusnya. 
Kalau memang masih mau kesana,
Kalau memang masih nekat bermimpi mejadi itu

Saya sadar, target saya yang amat sangat tinggi, rasanya sangat tidak tergapai, karena nyatanya usaha saya pun tidak sekeras itu, tidak setinggi puncak yang ingin saya tuju. 
Masih percaya keajaiban, mekanisme langit, apapun itu. 
Jangan ketawain kondisi saya ya, siapapun
Jangan ketawain mimpi saya juga
Ini masih berusaha, sedikit. Walau rasanya... sekuat apapun tetap aja segitu ya? 
Tertinggal jauh di belakang yang lain
nggak, nggak boleh salahin kondisi apapun
manusia hebat itu yang dihantam paling kuat kan?

"Nggak mau nulis mimpi apapun ah, biasanya kalau mimpinya ditulis, gak kesampean."
Saya tau persis kondisi itu, ketika doa dan harap kita teriakan selantang-lantangnya, justru tidak ada yang dikabulkan, sama sekali. 
Makanya sekarang saya takut, takut kalau berdoa. Takut malah gak dikabulkan. 
Tapi... saya masih percaya kekuatan doa. 
Tapi buktinya belum ada. 

Dan saya terjun bebas. 
Kehilangan keseimbangan dan akhirnya menghujam bumi. 
Harusnya sadarnya dari awal ya?

Ya Allah, kalau dibuktikannya tahun depan, boleh ya?
Apapun takdirnya itu, apapun, selagi hamba masih kuat berjuang, hamba terima. 
Kuatkan ya Allah. Kuatkan. 


coba ingat lagi alasan kamu memilih 3 tahun sendiri, rela perjuangannya terbuang sia-sia tanpa hasil?
terus untuk apa, Fon?



No comments:

Post a Comment