Sunday, 29 March 2015

Kabar Gembira!

Seminggu libur, seminggu-seminggunya juga nggak ditelepon, padahal sebelumnya ditawarin tiket, dan saya tolak. 
Ya...gitu, lagi-lagi kan harus mementingkan yang ada disini, yang dekat, yang bisa meneror di setiap harinya. Dengan hiburan bahwa Papah akan pulang dalam waktu seminggu itu. Ternyata tidak. Nggak ada sms, nggak ada telepon. Bosan, akhirnya saya email Papah. Berhubung sekarang Indosat kalau beli pulsa cuma nambah 2 minggu masa aktif. 
"Papah kok nggak jadi pulang?"
"Nanti tanggal 1 pulang, sampai jumpa!"
cuma dari email begitu aja, mood saya naik, bahagia, senang. Kemudian senyam-senyum sendiri. 
Dan disaat saya tidak mengharapkan untuk ditelepon, hp berdering. 
Mamah. 

Dan sungguh tidak ada kalimat yang bisa membuat saya lebih bahagia lagi, 
"Teh, insya Allah Mamah Papah Dedek pulang tanggal 1. Sampai hari Selasa. Adek mau tes masuk sekolah."
Nggak, kali ini saya tidak teriak atau senyam-senyum sendiri, saya menangis...
bahkan saya juga lupa kapan terakhir kali menangis karena bahagia. 
Terus as usual, nelepon sampai 1,5 jam. 
Damar tahun ini UASBN, dia menyerah, mau tinggal di Bogor aja. Katanya disana nggak enak, dia habis di jambret.......batu akiknya. Sumpah, sumpah, nggak ngerti lagi kenapa punya adek kaya dia ih. Anak siapa sih. Jadi tahun depan Adek boarding school di Bogor! Damar udah gede, udah bisa diajak Sundate, yeaay!

Bahagia sederhana, ya?


mau cerita progress menulis, alhamdulillah meningkat, 98 halaman. Dalam waktu dua hari. Ternyata saya hanya perlu menyelam lebih dalam sedikit lagi, kemudian tenggelam. 
Tapi selalu begini, selalu nyaman nulis saat harus kembali ke sekolah, sebel. 
Padahal saya itu tipe orang yang harus bertapa dulu, harus menemukan suasana yang pas. 
Ah. 
Kalau udah gede, mau beli vila terus setiap mau nulis kesana. Bertapa. Sampai punya buku banyak. 






anyway, ternyata ada kalimat yang mampu membuat saya menangis deras, ditengah tengah bahagia dan penuh harap. 
"Yaudah nanti, yang itu memang sengaja Mamah siapin buat teteh. Buat praktek teteh. Nanti orang-orang kalau mau berobat ke dokter Fona aja, ya Teh ya...?"
Siapa yang bisa kuat sih, mendengar ucapan penuh doa yang.... entahlah tidak bisa saya gambarkan. 





iya Mah, nanti teteh jadi dokter. 

No comments:

Post a Comment