Sunday, 19 January 2014

Surat Kepada Masa Depan. (Generasi Muda Menjawab Tantangan Masa Depan)

surat ini saya tulis dalam rangka memenuhi pertanyaan, Generasi Muda Menjawab Tantangan Masa Depan. 

Kepada Yang Terhormat,
Masa depan yang sedang bertanya dan menantang kepada kami.


                Terhatur salam dari saya wahai masa depan. Saya dengar dari banyak orang, katanya kau memberikan tantangan. Saya salah satu orang dari mereka yang kau beri tantangan, ya para generasi muda. Sebelum saya berusaha menjawab pertanyaan kamu, bolehkah saya bertanya, masa depan yang terhormat? Seperti apakah bentuk kamu nanti? Saya dengar juga dari banyak orang, katanya kau itu berkisar pada era pasar global dan hal-hal yang sejujurnya masih belum saya pahami.
                Saya sebagai generasi muda bukannya tidak sadar dengan apa yang akan terjadi nanti. Toh pada era kami masih berumur seperti ini pun gaung mu sudah terdengar. Dan, selalu, orang-orang itu berkata bahwa kami lah penerus mereka. Generasi muda yang akan melanjutkan dunia. Ah, mengapa terdengar begitu berat ya? Nasib negeri ini di dunia diserahkan pada kami. Sementara kami belum banyak tahu apa-apa.
Saya tahu dari pelajaran sejarah bagaimana kuatnya semangat para pemuda di zaman itu, untuk bersatu dan merdeka. Pertanyaannya adalah, bukankah kita sekarang sudah merdeka? Aih, sayangnya kita belum merdeka, namun ternyata naasnya penjajah negeri ini adalah pemimpinnya sendiri. Lantas, jika ingin merdeka (lagi) apakah itu berarti kita harus memerangi diri sendiri, siapa yang akan memimpin kami?
Begini saja masa depan, saya ingin bercerita. Bukannya saya menolak dipredikati generasi muda yang akan menentukan nasib negeri ini dunia, generasi muda yang akan menjawab tantangan mu. Saya hanya bingung. Akhir-akhir ini, ada sebagian generasi muda yang sibuk dengan rencana hebatnya masing-masing, menjadi dokter, arsitek, insinyur, karyawan perusahaan asing, dan cita-cita hebat yang lain. Ada juga beberapa dari kami yang berkata, tidak sabar menjadi mahasiswa pintar, lalu dapat beasiswa setelah lulus kemudian pergi dari Indonesia. Indonesia sumpek, tidak bisa diandalkan. Ya, itu memang hanya sedikit sekali dari sebagian kami, karena sebagian yang lain ada yang bahkan tidak mengenal sekolah. Kalau fikiran seperti itu terus dipupuk, nanti negeri ini diurus siapa? Katanya generasi muda yang pantas meneruskan nasib negeri ini. Terlalu sayang jika bedebah-bedebah yang sama masih bersarang disini. Lalu kenapa ya, generasi muda yang pintar-pintar itu enggan disini?
Kami sama-sama pemuda Indonesia dengan mereka yang hidup pada zaman penjajahan, dengan mereka yang kita kenal pahlawan, otak kami sama-sama cerdas, dan semangat kami untuk hidup lebih baik pun menurut ku tidak terlalu berbeda jauh. Bedanya hanya, lebih baik untuk siapa saja. Mata para generasi muda itu belum terbuka lebih lebar, kebanyakan ingin hidup lebih baik,  bukan menjadikan hidup orang lain ikut jadi lebih baik. Bukan menjadikan tanah tempat ia tumbuh dan sumber air yang ia minum sekian belas atau puluh tahun menjadi lebih baik. Tapi untuk hidup dia dan keluarganya. Padahal dia menghirup udara yang sama dengan jutaan orang lain di bumi Nusantara ini. Masa depan, ku rasa kami perlu rasa cinta tanah air. Bukan hanya dari upacara bendera saja. Siapapun bisa mengobrol saat bendera naik. Tapi dengan ditampakan depan mata, ini tanah kita bersama. Dan ku rasa memegang negeri ini di mata dunia harus diawali dengan memegang kuat kuat negeri ini dihadapan anak bangsanya sendiri.
Ada lagi masa depan yang ingin ku ceritakan. Maaf, jika mereka menyebut kami generasi muda pantaskah kami menyebut mereka generasi tua? Baik, terdengar kurang enak. Aku menduga-duga, dulu pada saat generasi sebelum kami masih seusia kami, apakah mereka juga disebut generasi muda yang akan memimpin bangsa? Kalau bukan, apakah dulu tidak ada generasi muda lantas penerusnya seperti ini? Tidak kan? Yang menjadi pertanyaan besar ku adalah, sadarkah mereka bahwa pola yang ada sekarang jika tidak berubah maka hasilnya pun tidak akan berubah. Jika mereka masih mendidik kami dengan pola-pola yang mereka rasa benar karena mereka sudah pernah mengalami hidup dengan pola itu, pada saat kami bertemu masa depan nanti, kami tidak akan jauh berbeda dengan mereka. Lantas dimana kata perubahan? Mana bukti kalau mereka ingin negeri ini lebih baik? Jika kesuksesan hanya dinilai dari uang, maka kami akan terpola mencari uang untuk sukses, bukan uang sebagai imbalan karna sukses. Kami akan gila harta, kami akan menjadi tikus-tikus kotor, kami bahkan mungkin saja menghalalkan segala cara untuk menyingkirkan lawan dan itu berarti membunuh negeri ini pelan-pelan. Jika paham-paham yang memang sudah melekat sejak zaman generasi sebelum kami masih muda terus dilanjutkan tanpa perhitungan matang, kami pun akan menjadi seperti mereka. Dan ibu pertiwi akan lebih menjerit lagi.
Atau seorang anak dikatakan cerdas, pintar hanya ketika dia mendapat nilai sempurna di laporan akhir belajar yang dibagikan 6 bulan sekali itu. Sekali lagi, mereka akan mencari nilai bagus untuk menjadi pintar, bukan nilai bagus sebagai hadiah karena mereka pintar. Terlihat perbedaannya bukan?
Begini saja Masa Depan, saya cukup bercerita seperti itu dulu. Karena menurut saya untuk menjawab tantangan mu, hal-hal itulah yang perlu diubah kemudian dijadikan pondasi yang kuat. Dan kami sedikit berharap Masa Depan, sebelum mereka menaruhkan negeri ini di pundak kami kelak, mereka dapat mengubah apa yang sudah mengalir di pola pikir masyarakat zaman ini.
1.       Cinta Tanah Air . Hal paling dasar. Sedasar-dasarnya sebuah perjuangan adalah karena cinta, seperti yang diagung-agungkan anak muda sekarang, semua karena cinta, apapun bisa. Jadi jika mereka ingin kami bersama sama memperjuangkan bangsa ini, maka tidak ada cara lain selain mencintai bangsa ini. Mencintai produknya, mengenalkannya dengan cara yang lebih dapat melebur bukan dengan iklan-iklan yang malah terlihat mengganggu. Bukan dengan jalan yang malah menjadikan kami memandang sebelah mata produk bangsa kami sendiri. Mengenalkan budayanya sebagai sesuatu yang dekat dengan kehidupan. Membuat kami nyaman berada disini dan pada akhirnya keinginan kami untuk sukses bukan hanya untuk diri kami sendiri, sukses kami juga ditujukan untuk tempat kami merampungkan mimpi.
2.       Setiap anak pasti berbeda, jangan lah terlalu mengagung-agungkan generalisasi disetiap sudut pendidikan. Standar yang diciptakan bukan untuk mengekang dan malah pada akhirnya semua kreatifitas-kreatifitas yang ada terkubur dengan sistem-sistem ortodoks yang kita lihat sendiri, tidak menghasilkan sesuatu yang cukup baik.

3.       Kenali dunia generasi muda. Kenali sejauh apa fikiran dan sudut pandang mereka. Semangat kami memang gampang tersulut, begitupun emosi kami. Kami masih mencari, bahkan dari hal yang paling kecil seperti tontonan di teve, bagaimana mungkin kami tidak muak dengan acara-acara domestik yang tidak ada unsur pendidikannya, yang tidak membuka wawasan kami lebih jauh lagi. Yang muak memang sedikit, karena sebagian besar yang lain, yang masih perlu dibuka lagi mata logikanya, malah menikmati dan akhirnya meniru hal-hal seperti itu. Mungkin menurut mereka begini, “Apa yang salah? Yang memerankan cerita-cerita seperti itu adalah anak seusia kami, mungkin seharusnya kami pun seperti mereka.” Bagaimana tidak tergerogoti, itulah kenyataan mereka yang kalian taruh negeri ini di pundaknya. Adapula yang akhirnya beralih kepada media yang menurut mereka lebih pantas untuk ditonton padahal pada kenyataannya menghancurkan moral dan jati diri mereka sendiri. Ya, itulah yang menjadikan banyak anak Indonesia malah lebih senang kebarat-baratan. Sudah jelas bukan permasalahannya? Belum banyak yang mengerti kami. Belum banyak yang memperlakukan kami, sebagaimana kami ingin diperlakukan.
4.       Jika ingin negeri ini dituntaskan hingga ke akar permasalahan, siapkan pemimpin yang siap menjadi sebenar-benarnya pemimpin. Masa Depan, seperlihatan saya, semua orang bergaung-gaung menjauhi politik, karena mereka ingin menjadi orang baik. Rasanya lucu. Padahal dunia ini adalah lapangan politik yang sangat luas, bagaimana mungkin berharap memiliki pemimpin jika yang diharapkan tidak ingin menyeburkan diri di arena seharusnya?
Saya kira cukup Masa Depan, secara tidak langsung, begitulah cara saya menjawab tantangan mu. Semua orang sudah tau, bagaimana pemuda yang dapat menjawab tantangan Masa Depan, semua orang tau kekuatan apa saja yang ada dalam diri tiap pemuda.  Tapi saya hanya membantu bagaimana mewujudkan generasi yang diidam-idamkan tersebut, karena sebenarnya sejak dahulu, potensi untuk menang itu selalu ada. Tapi, setiap generasi memiliki caranya sendiri. Dan saya, sebagai salah satu yang dikatakan mereka akan menghadapi kamu, saya memegang negeri ini sebagai harga mati.
Doakan kami mampu menjawab tantangan mu.   
Sampai bertemu nanti, Masa Depan.

Salam,
Satu dari sekian ratus juta harta berharga Indonesia.
Satu dari sekian ratus juta yang bertekad, untuk berubah. 
@fonaqorina. 
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Seorang Dino Patti Djalal.

Bapak Dino adalah satu dari sekian banyak anak Indonesia yang tidak menghirup udara Indonesia saat pertama kali ke dunia, beliau lahir di Beogard, Yugoslavia, dari rahim istri seorang Duta Besar Indonesia untuk Kanada dan Jerman. Berkembang dalam lingkup keluarga diplomatik, sehingga hasrat untuk selalu berdiplomatis dan menjadi aktivis sudah mendarah daging padanya. Pada umur 15 tahun beliau sudah lulus dari Maclean High School di Virginia, kemudian menjadi Sarjana (Bachelor Degree) jurusan Political Science dari Carleton University dan masih dalam jurusan yang sama, gelar masternya ia raih dari Simon Fraser Univesity.Pada tahun 2000, ia menerima gelar Doktor dari London School of Economics and Political Science. Walaupun beliau mengeyam pendidikan lebih dominan di barat, tidak serta merta menjadikannya lupa dengan negerinya sendiri, ketika beliau merasa cukup merampungkan ilmu politiknya, beliau kembali ke Indonesia dan bergabung dengan Departemen Luar Negeri. Kemudian beliau diangkat menjadi Staff Khusus Urusan Internasional dan Juru Bicara Bapak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Bapak Dino adalah pemuda yang lahir dalam lingkungan politik kemudian mencintainya dan menekuni politik. Ia tidak menganggap politik adalah ranah kotor justru politik adalah celah terbesar untuk memperbaiki negeri ini. Setelah menjadi Juru Bicara Presiden, beliau ditunjuk sebagai Duta Besar Republik Indonesia untuk Amerika Serikat. Perannya dalam kancah Internasional sudah tidak diragukan lagi, beliau peduli lingkungan terbukti beliau bergabung dalam Conceptor Kehutanan 11 untuk negara-negara tropis wilayah Asia, Afrika dan Amerika.
Jika boleh dibilang bahwa ada generasi muda dahulu yang pola didiknya berhasil sehingga menjadi tokoh besar, Dino Patti Djalal salah satunya.

16 comments:

  1. Bagus juga nih buat dibaca haha tengkyu ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah, tengkyu kembali wkwk. yes first comment!

      Delete
  2. Ketika semangat untuk berubah seharusnya tidak hanya dimiliki dan disadari oleh segelintir manusia. Selalu dicari sosok penegak dan penggerak yg mampu merombak tanah air untuk menghadapi masa depannya yg lebih cerah..

    Bacaan recommended untuk membuka berjuta kelopak mata generasi muda

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin, semoga salah satu dari kitalah penegak dan penggerak itu. Semangat! Terimakasih ya:D

      Delete
  3. Keren banget. Lanjutin postingannya ya :)

    ReplyDelete
  4. Masa depan dapat dilihat dari sikap dan persepsi generasi muda masa kini.

    Memang keadaannya saat ini sangat miris. Tapi, bisa jadi lewat tulisan kecil ini, bisa membawa perubahan besar di masa yang akan datang.

    Nice. Keep writing :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. uhuy, semoga di dengar oleh Sang Maha Pembuat Rencana, sekecil apapun tetapi insya Allah niatnya besar:)) terimakasih Dzakiyah!

      Delete
  5. Replies
    1. untuk buka ini aja udah makasih, makasih ya!

      Delete
  6. Keren banget! Kata katanya sangat pas dan bagus. Recommended banget pokonya bacaan ini. Terus nulis ya fona semangat!:D

    ReplyDelete
    Replies
    1. terimakasih Raissa! Aamiin, semangat yang lebih besar kembali!

      Delete
  7. Ketepuk. Terimakasih untuk tanpa sadar mengingatkan bahwa masa depan itu relatif untuk setiap orang. Semoga, tulisannya tidak hanya sekedar dituliskan dan pertanyaannya tidak hanya sekedar ditanyakan.

    anyway,
    "...Dan kami sedikit berharap Masa Depan, sebelum mereka menaruhkan negeri ini di pundak kami kelak, mereka dapat mengubah apa yang sudah mengalir di pola pikir masyarakat zaman ini."
    Kita, masyarakat zaman ini juga kan? kenapa harus menunggu diubah? Kenapa tidak berusaha untuk (juga ikut membantu) berubah?

    Semangat Fon! (:

    ReplyDelete
    Replies
    1. Teh Iffah, Aamiin. Semoga doa itu di dengar Sang Pembuat Segala Rencana. Ah, untuk yang itu, aku berharap untuk membantu berubah, hanya sekadar membantu, walau cuma dari hal abstrak seperti post ini.
      dan terimakasih semoga semangatnya juga kembali pada yang memberi semangat!:)

      Delete
  8. Terimakasih atas komentarnya, semoga dari pemikiran abstrak yang keluar dari remaja masih labil dan belum paham dunia sepenuhnya ini bermanfaat, sekecil apapun. Makasih sudah meluangkan waktunya untuk membaca rentetan racauan ini. Semangat untuk kita yang harus berjuang!:D

    ReplyDelete
  9. Memang, mengubah pola pikir generasi sekarang itu tidak mudah. Semuanya diam diam menginginkan keadaan yang lebih baik untuk diri dan keluarganya sendiri. Tapi, tulisan ini adalah salah satu dari cara untuk mengubah pandangan generasi muda dari generasi itu sendiri.

    Salut banget sama Fona! Sukses terus ya Fona sayang! Tercapai impiannya, Aamiin :)

    ReplyDelete
  10. Fon! Baru baca. Asli keren banget postingannya. Sukaaa :)

    ReplyDelete