Tuesday, 4 July 2017

Terakhir, Saya Janji.

Sebenar-benarnya terakhir, seperti yang selalu yang saya janjikan.
Dan sayangnya, saya langgar dengan sadar.
Keberanian macam apa yang membuat saya mengetik, "pernah sakit hati loh."
Mungkin keinginan bertahun-tahun silam yang tidak ingin selamanya terpendam
Mungkin rasa sombong saya karena ya, saya berhasil memaafkan, meninggalkan cerita panjang itu di belakang
Mungkin kebutuhan saya untuk membuktikan sekarang puisi saya bukan tentang kamu lagi
Mungkin pelabuhan atas sekian selamat ulang tahun yang tidak pernah kamu dengar karena saya sudah terlanjur, begitu dalam.
Mungkin juga muara dari pesan-pesan yang tertuju namun tidak pernah sampai
Atau mungkin, bukan apa-apa.
Hanya gurauan belaka, balasan ringan di media sosial.

Kamu bilang pernah sakit hati juga sama saya.
Ah, persoalan kita mungkin saja beda.
Sama seperti permintaan di awal perjalanan, tiga tahun yang lalu, enam tahun yang lalu.
Saya minta maaf ya, pernah sebegitunya.
Pernah menyalahkanmu sebegitunya.
Pernah merasa kamu orang jahat sebegitunya.
Sekaligus pernah memuja kamu sebagai orang yang paling sempurna sebegitunya.
Padahal tidak begitu.

Sakit hati dan luka dalamnya sudah sembuh.
Sekarang, saya tidak gentar lagi menyebutkan namamu.
Pun, tidak segugup itu menyapamu di selasar.

Semoga lebih baik ya.
Katamu, pasti. Dan akan kamu pastikan.
Tidak akan saya tunggu,
Biar dunia nanti yang tahu.
Selamat malam.

No comments:

Post a Comment