Thursday, 3 November 2016

So Far

Sejauh ini mulai terbiasa dengan ritme yang ada, walaupun masih tetap terengah-engah tapi kalau dibisa-bisain sih semoga bisa. Mengutip kata-kata seorang teman, ternyata waktu 30 menit dari rumah bisa membuat perbedaannya sejauh ini. Jaraknya hanya terpisah 22 km tapi transisinya benar-benar terasa.

Banyak hal-hal yang butuh toleransi lebih banyak, di sini masih tetap jadi kaum mayoritas namun yang berbeda ternyata lebih banyak dan lebih beragam. Sulit sejujurnya penerimaan itu muncul. Lebih sulit lagi bertahan dengan idealisme sendiri, keheterogenan ini cukup menyiksa.
Mungkin ini mengapa bagi sebagian besar orang kuliah adalah titik penerimaan.


"Kerudung anak Bogor gitu semua ya" 
Itu adalah kalimat yang mengusik saya pertama kali, celotehan kecil. Tapi cukup membuat saya berpikir, apa yang salah dengan kerudung saya dan teman-teman saya? Lambat laun mulai mengerti, mungkin karena kami memang dibiasakan dengan yang seperti ini, bahkan di peraturan sekolah tercantum jelas, tidak transparan dan menutupi dada.

Belum lagi ketika saya kikuk sendiri setiap kali laki-laki mengajak bersalaman tanda sebuah perkenalan, masa masa orientasi ini ya mau tidak mau harus banyak mengenal orang kan? Atau ketika diajak tos. Aneh. Asing. Butuh usaha, masih butuh penjelasan atas tangkupan tangan saya. Dan berakhir cuma menggeleng. Sempat ada ucapan soal ini juga, kurang lebih, "Kalau sama cowok gak mau nanti jadi sama cewek dong?"
Iya, saya tahu itu bercanda saja. Saya sadar selama ini masih amat kurang, masih sering bercanda-canda berlebihan, masih belum jelas batasannya, tapi sungguh niat saya untuk meng-upgrade diri masih ada, doakan ya.

Waktu itu saya lagi panik karena sebuah acara, terus ada seseorang teman, lawan jenis, menghampiri saya, niatnya baik mau menenangkan tapi yang saya kaget cara menenangkannya adalah dia tiba tiba memegang bahu saya. Dia tidak bermaksud begitu dan tidak ada maksud aneh aneh, I know, mungkin butuh penerimaan bahwa di sini hal hal seperti itu masih biasa, laki laki bersandar di pundak perempuan ya biasa. Laki-laki ada di apartemen perempuan itu wajar. Tiba-tiba laki-laki memegang kaki saya walaupun itu hanya untuk melihat seberapa kecilnya kaki saya dianggap tidak apa-apa, "Kan pake kaos kaki?!" 
Pergeseran kata biasa dan wajar di sini yang sejujurnya mengusik saya. 

Suatu ketika saat jam 6 pagi di selasar C sebelum berangkat Kerja Sosial, saya terlibat sebuah percakapan.
"Kok acara kaya gini gak pake celana sih Fon? Ga ribet apa?"
"Hm.... Di Depok ga punya celana, hehe." 
Alasan sebenarnya adalah saya sadar setidak sempurna apa selama ini, jadi ketika saya masih bisa mengusahakan saya akan mencoba. Meskipun kalau pake baju masih dimasukin ke dalam rok, karena kalau dikeluarin bajunya sampai lutut. Huhu.

Dulu, alhamdulillah saya selalu ada di lingkaran tepat, setiap adzan terdengar semua berhenti 
"Eh udah adzan, shalat yuk." 
Kalimat itu disambut baik. Saya selalu bersyukur ada di lingkaran yang saling mengingatkan. 
"Terusin aja deh sebentar lagi bahasannya."
Kemudian baru selesai 20 menit kemudian. 
Atau ketika sebuah forum, adzannya sudah hampir 30 menit yang lalu, tapi saya masih secupu itu untuk angkat tangan dan bilang. Masih takut. Masih membiarkan aja shalat Magrib 10 menit sebelum adzan Isya. Masih belum bisa bergerak apa-apa. 

"Calonnya perempuan Kak?"
"Iya"
"Boleh?"
"Kenapa enggak boleh?"
Disusul dengan perkataan teman saya, "di sini mah ga ada aturan gitu Fon"
Lagi lagi saya masih keliru, masih menyamakan keadaan yang sudah amat jauh berbeda, masih merasa tempat ini sama dengan rumah yang terpisah 22 km itu.
Ini soal semua kebiasaan-kebiasaan yang tiga tahun terlampau melekat di otak saya. Prioritaskan shalat, apapun keadaannya, selalu itu yang ditekankan. Bahkan acara Smansa Day banner jadwal shalat hampir sama ukurannya sama banner acara. Kalau dilanggar, bisa teriak-teriak. Di tempat saya yang itu, terlalu banyak ceritanya. 
Menurut saya apa yang selama ini saya pegang memang nilai-nilai kebaikan yang sudah seharusnya diterapkan jadi saya pun bingung harus apa, maksudnya, nilai-nilai itu memang harus ada, bukan soal budaya. Apakah idealisme saya ini terlalu salah? 
Kadar penerimaan saya mungkin memang belum sampai di sana

"Dulu, ada kejadian, ketua umum osis terpilihnya perempuan terus di demo, akhirnya turun dan jadi ketua satu. Yang jadi ketua umum osisnya tetap laki laki"
"Waktu ada isu baju seragam di masukin, semua anak anak perempuan berhijab nolak sampai akhirnya perwakilan kelas dan dkmnya rapat di ruang kepala sekolah, akhirnya tetap dimasukin. Ya iyalah, masa rok span baju dimasukin." 

"Kamu sekolah negeri kan?"
"Iya."
"Kok bisa ya negeri tapi sekuat itu."
dalam hati cuma bisa senyum, smansa memang seistimewa itu.
Kebanyakan orang mendapatkan titik baliknya di kuliah, namun yang saya bingung adalah saya sendiri merasa sudah banyak yang saya dapat dari kotak sabun itu.
Apakah delta yang akan terjadi akan besar?
Entah,
Semoga di sini saya masih tetap bisa menjadi apa yang seharusnya.

Anyway, besok puncak mabim rohani, sedikit banyak mungkin akan setipe dengan OASE. Tempatnya di Megamendung. Kembali pulang ke kampung
Mendadak kangen banget sama HIJRAH, kepanitiaan terakhir di SMA yang bikin saya tidur jam 2 pagi dengan betis persis tukang becak. 
Dulu, nuansanya sangat kerasa, yel yel, kumpul kelompok, bikin buku. Seru.
Semoga besok nanti seseru itu ya, tapi kadang, seringkali banyak ekspektasi yang dikecewakan di sini, hehe. Tambah lagi ya Fon kadar penerimaannya? 
Doain ya teman teman bisa terus istiqamah, semoga dengan ditunaikannya salah satu janji kalau masuk FKUI, Fona tetap bisa terjaga dan selalu diingatkan, aaamiin. 
Hari Minggu denger denger sih ada kumpul forkom alims, HEHE. Cocok gak sih? Enggak ya :(

Humas-Materi-Acara
tiga koor paling sering berantem
tapi kami sama-sama membenci Satria

\
Seksi acara tidak lengkap, terimakasih ya udah mau disuruh suruh, dierepotin dan begadang
luvs.
Januari 2015.
Kelompok yang cuma dapat satu biji buah jambu,
maaflan kebobrokan ketua kelompok kalian ya
see you di Surga
SWAG hihi



Jadi gimana Fon, so far?
So good. 
Semoga. 



No comments:

Post a Comment