Friday, 18 March 2016

Tutup Buku

Beberapa hari yang lalu sempat membuka folder haram yang seharusnya tidak perlu dibuka lagi, sampai kapanpun. Kemudian terhenyak sendiri, parah juga ternyata. Padahal seasing itu loh, tapi jadi seaneh itu. Merasa berdosa, udah setop. Udah.
Pelajarannya adalah jangan mudah membuka pintu. Mungkin terkesan susah, tapi kalau tidak dipaksa akan selalu seperti ini. Menjadi nista setiap kali pembicaraan itu terungkit, memaksa otak memproses ulang ingatan-ingatan sampah dan menjadi budak yang ikut terbawa arus terombang-ambing, meluluh lantakkan benteng pertahanan. Padahal harusnya menjadi seseorang yang tegak berdiri tanpa perlu bergantung pada siapapun. Karena manusia lain akan selalu menggoyahkan. 
Dan jangan memaksa. Jangan pura-pura masih hanya karena takut ketinggalan cerita, alasan aneh. Sekedar tidak ingin kehabisan topik bicara dengan teman-teman sebaya. Ini harus dipaksa. 
"...jangan maksa-maksa nulis di motivasi Kiky deh, nggak akan kelihatan juga." 
iya ituloh yang di bawah buku kan ada kata-kata motivasi, kalau nggak muat kita maksa nulis disitu. Katanya sih itu, percuma. 

"Tiga tahun Fon dan omongannya masih orang yang sama kita teh." kata teman kelas sepuluh
"Enam tahun Fon, dan masih itu itu lagi" kata teman rok biru
udah nggak usah dilanjut lagi sebenarnya sejak kapan.

"Pokoknya kuliah nggak lagi-lagi kita ngomongin kaya gini ya Fon! Nggak boleh terjebak sama nama-nama yang sama!"

iya, kuliah harus punya cerita baru. jadi yang ini, cukup sampai masa sekolah habis saja. 

karena yang terjaga hanya untuk yang menjaga, kan?

tidak perlu ada puisi-puisi atau cerita-cerita rekayasa lagi, berhenti beralasan menjadikan semua itu inspirasi bagi karya-karya yang termuntahkan ke dunia, semesta punya caranya sendiri. 

No comments:

Post a Comment