Saturday, 15 August 2015

Yang Tertunda.

Hampir satu tahun yang lalu saya berjanji akan menulis surat kepada 20 orang tersayang. Dan sampai sekarang, surat itu belum ada.
Saya pun meniatkan diri untuk menceritakan cerita hebat saya di awal tahun, lagi-lagi masih tertunda. 
Dan kemarin, ternyata sudah waktunya saya (dan yang lain) berdiri di altar, memandang orang-orang yang berbaris di hadapan kami. 

Saya ingat persis kejadian satu tahun lalu seperti apa, masih sangat amat jelas di otak saya. 
Pra-Pra BLDK, hari itu Reza Fajar keliling kelas, dibilangnya pulang sekolah kumpul lengkap. Tetot. Semua orang panik dan berusaha ikhlas kalau memang sudah saatnya.
Ternyata pas pulang sekolah ada forum melingkar, awalnya santai aja, ternyata akhirnya dimulailah Pra-Pra BLDK. Malamnya grup penuh dengan format-format.

13 Agustus 2014; Pembukaan Regenerasi 4 Organisasi. 
Saya pergi ke Jakarta hari itu, menghadiri suatu ceremonial, sama teh Henny dan A Alwi, awal perjalanan saya sempat lihat sebuah grup "pulang sekolah lapangan dalam steril ya." Panik; tapi saya juga sudah tau kok, hari itu akan dimulai. 
Selesai acara, sepanjang jalan pulang saya panik nggak karuan, tangan saya semakin dingin apalagi setelah bus mulai keluar tol dan ke jalan Pajajaran menuju sekolah. Ditambah saya duduk dikelilingi orang-orang yang akan terlibat di kegiatan tersebut, mereka juga nakut-nakutin sepanjang jalan, alumni banyak datenglah apalah apalah. 
Sampai sekolah, saya lari cepat-cepat shalat, lalu langsung menyusul yang lain. Dengan kondisi memakai batik sendiri, itu hari Rabu. 
Kami diperintahkan membuat kincir angin. Filosofinya ya agar bersinergi dan seterusnya. 

16 Agustus 2014; Pembukaan Pra-BLDK. 
Diawali dengan sidang dan ditutup dengan lari-lari bawa tas dari lantai 3. 
Pas liat videonya saya sadar, jelek banget lari saya. 
Semenjak hari itu, dimulailah cerita hebat kami.

17 Agustus 2014; Hari Kemerdekaan RI
...pulangnya malah kumpul informal, jadi sepanjang brainstorming kami nontonin Upacara Kemerdekaan di Istana dari TV. 
Hari itu, jadilah kami. Sebuah bambu kecil beruas 21. 
Iya, waktu itu kami full team. Sejak hari pertama pun kami full team. 
Fotonya juga mestinya bisa full team tapi akhirnya Laika jadi Cacing Besar Alaska. Hahahaha. 


Walaupun harus menerima kenyataan bahwa kami nggak bisa jadi Bambu, padahal saya lebih suka menyebut kami bambu, soalnya saya nggak ngerti busi. Sekadar jadi pengingat, 
Hai ke-20 Busi, teruslah menyemburkan kebaikan ya. Kita tetap si Bambu-Bambu yang kini sudah tumbuh sempurna, sudah cukup kokoh menopang selama satu tahun. Semoga kita terus rimbun, sudah semakin banyak kita bercabang. Tapi selamanya kita tetap berasal dari akar yang sama. 
Tunggu surat penuh cinta untuk ke-20-20nya. Walaupun kalian nggak akan pernah baca. Tapi saya masih ingin menulisnya. 



Dan untuk ke 20 orang tersayang yang lain, 
Hai ikan-ikan kecil, selamat berenang di lautan yang luas. Awas hati-hati ombaknya besar. 
Percayalah, kalian akan sangat amat bersyukur diberi kesempatan lebih awal untuk memulai, nikmati waktu kalian selagi kalian masih bisa bersama seutuhnya. Pelajaran yang berharga memang terkadang harus dibayar mahal dengan waktu dan pengorbanan. Saya sendiri nggak nyangka, saatnya kami mendidik kalian. Kalian sudah mulai besar. Maaf jika selama proses nanti mungkin kalian lelah dan marah sama kami. Tapi apapun yang terjadi jangan lupa untuk pulang ya. Jangan tinggalkan kami terlalu lama. 
Saya masih ingin jadi kakak kalian. 
Dijaga selalu ibadahnya, jangan lupa untuk menaruh hati kalian seutuhnya disini. Karena satu tahun dari sekarang, sama seperti saya, kalian akan sangat berterimakasih pada masa-masa ini. 
Selamat memakai ID! 
Hati-hati, semakin malam semakin banyak air mata berjatuhan HAHAHAHA. 


Kalau boleh mengulang, saya sungguh ingin mengulang satu minggu di awal itu. 
:)


Anyway, beberapa hari setelah dimulai itu, saya menemukan sebuah pesan untuk ke 21 Busi.
Ah si Teteh ini memang yang paling bisa,
"Teruntuk ke-21 adik yang begitu kami sayangi, maaf karena tak bisa mengungkap secara langsung, maaf karena terlalu pilu dan akan menjadi begitu terlihat lemahnya saya apabila berkata ini di depan kalian. Bagaimana kabar kalian saat ini? Apakah malam ini kalian gelisah? Cemas memikirkan masa itu yang sudah sejak lama kalian pertanyakan kapan datangnya? Tidak usah dipungkiri jika memang kalian cemas ataupun khawatir. Namun tolong ketika waktunya telah tiba, jangan sedikit pun membenci kami. Tolong ketika memang akhirnya kalian dituntut lebih, jangan sedikit pun berprasangka buruk kepada kami. Permintaan yang sulitkah itu? 

Kami memang tidak menjanjikan hari-hari yang mudah untuk kalian ketika masa itu tiba. Kami memang tidak akan bisa menjanjikan bahwa kalian akan bebas dari hari-hari yang penuh oleh letih, jenuh, kebas, muak, ataupun keinginan untuk lari. Karena memang manusiawi, ketika menjalani masa itu, semua perasaan itu akan timbul. Dan kami pun tidak akan bisa menjanjikan bahwa kalian akan bebas dari segala tangis, ketika hari-hari itu telah menjadi pengisi beberapa minggu kalian ke depan. Tapi apakah itu menjadi tanda bahwa kami membenci kalian? Apakah semua itu membuat kalian berpikir bahwa kami ternyata hanya sekedar menjalankan sebuah tradisi? Apakah ketika kita sama-sama menjalani ini, sebagai yang dididik dan sebagai yang mendidik, justru membuat kalian ingin pergi saja dari kami? 

Sungguh, justru dengan cara inilah kami ingin kalian menjadi jauh lebih baik dari kami. Lewat segala perjuangan inilah kami ingin melihat kalian mampu berdiri sendiri. Ketika menjalani masa-masa ini pulalah kami harap kalian akhirnya dapat meyakinkan kami. Bukan, bukan kami tidak percaya pada kalian. Sejak awal pun–mungkin lewat takdir yang tak pernah kita bersama rencanakan– kami telah sepenuhnya percaya kalian. Karena jika tidak, kalian pun tidak akan pernah menjadi bagian dari kami, yang mendapat kesempatan lebih, yang merasakan bahagianya berada di lingkaran ini–untuk 2 tahun. Tapi sejatinya, sosok pemimpin dan penerus yang kami inginkan selanjutnya adalah yang siap menunjukkan bahwa ia akan bertahan dan mempertahankan apa yang sudah seharusnya ia pertahankan. 

Kami juga hanya ingin ranah yang sangat kami cintai ini, akan selanjutnya ditempati oleh orang-orang yang menyayanginya sama besarnya dengan cara kami menyayanginya. Kami hanya ingin lingkaran yang begitu ingin kami jaga selamanya ini, akan selanjutnya diisi oleh orang-orang yang juga akan dengan sepenuh hati siap menjaganya. 

Teruntuk ke-21 sahabat kami, yang entah mengapa begitu cepatnya kalian dewasa. Tolong ketika akhirnya kalian mendapatkan keluarga baru itu, jangan lupa untuk sesekali singgah kembali ke rumah ini. Tidak dapat dipungkiri memang bahwa sesayang apa pun kalian kepada kami, rasa sayang kalian akan lebih besar nantinya terhadap keluarga yang kalian pegang sendiri. Dan sampai kapanpun, kami tidak akan pernah menyalahkan itu. Karena memang sudah seharusnya, cukup kami yang tidak bisa berpisah dari kalian. 

Teruntuk ke-21 orang yang mungkin selama ini menjadikan kami sebagai sosok kakak. Maaf apabila kami masih sangat kurang dalam berbagai hal. Maaf apabila apa yang telah kalian berikan untuk kami tidak pernah kami beri apresiasi tinggi. Maaf apabila dalam memberi contoh ataupun pembelajaran seringkali cara kami salah. Maaf untuk segala tutur kata dan perbuatan yang secara sengaja maupun tidak telah meninggalkan luka di hati kalian. Maaf apabila kami pernah terlalu banyak menuntut kalian, tanpa pernah memahami kalian terlebih dahulu.

Terlalu banyak yang ingin saya sampaikan sebenarnya, namun selalu ada beberapa hal yang memang lebih baik tidak terungkapkan. Biar sisanya cukup menjadi doa yang saya panjatkan untuk kalian–yang hanya hati saya dan Sang Maha Pendengar yang tau. 

Terakhir, 
sejatinya, batu yang menerima tekanan paling besar dan yang menerima suhu paling tinggi lah yang akan menjadi permata. Maka… 

Teruntuk ke-21 calon pemegang dan pondasi ranah ini selanjutnya. Selamat berjuang, jadilah yang terhebat yang kalian bisa. Belajarlah sebanyak-banyaknya lewat penempaan ini, jadilah yang terkuat yang selama ini tidak pernah kalian kira. Ikhlas, positive thinking, dan semangat; mungkin 3 kata klise yang ingin sangat kalian muntahkan. Tapi dengan menanamkan itulah, semoga jiwa dan hati kalian akan selalu dikaruniakan ketangguhan dan keengganan menyerah. 

Karena sekali lagi, manusia yang kuat bukanlah manusia yang tidak pernah sama sekali ingin berlari menjauh. Tetapi, manusia yang kuat adalah yang ketika keinginan untuk berlarinya begitu tinggi, dia tetap memilih untuk bertahan."-dari seorang kakak ter-cheesy sepanjang masa.

saya belum sempat menyampaikan pesan itu di tahun lalu kepada 20 orang yang saya sayang,
kurang lebih, itu pula yang ingin saya sampaikan pada 20 orang yang saya sayang yang lain.
Sebegitu cepatnya ya...


Foto foto selama proses itu juga masih ada:"
Saking frustasinya dulu kami nyari beginian, karena Google selalu benar:"







-yang ingin menjadi tenang.- 


No comments:

Post a Comment